sebuah perjalanan dapat dikatakan indah, apabila orang yang mendapat kesempatan itu, dapat mengabadikan perjalanannya itu dalam sebuah cerita yang tertuang dalam tulisan. Kali ini, aku ingin mencoba kembali menceritakan pada rekan blog sekalian bagaimana, hari-hari ku selama 1 minggu berada di Surabaya. Tentunya saya tidak akan menceritakan hari per hari selama di sana, saya hanya akan berbagi pada sesuatu yang menurut saya memang laik untuk dibagi.
Oya, sebagai informasi awal, bahwa sebetulnya keberadaan saya disana dalam rangka mengikuti pelatihan jurnalis radio dalam perspektif informasi public. Pelatihan ini menghadirkan 20 peserta dari berbagai daerah yang difasilitasi oleh Alwari bekerjasama dengan Yayasan TIFA, Media Link dan Komisi Informasi Publik (KIP).
Hari pertama hingga hari ke-empat, kami 20 peserta ini begitu antusias mengikuti pelatihan. Peserta mendapat wawasan apa sebetulnya KIP itu dan informasi public yang seperti apa sebenarnya masyarakat berhak mengetahui dan berhak mengakses informasi tersebut. selain itu, kami juga diberi pemahaman bagaimana sebaiknya media memposisikan diri dalam kaitannya UU KIP.
Selesai dari pelatihan, saya tidak segera pulang ke daerah asal. Saya, juga teman lainnya, coba menjelajahi sebagian tempat bersejarah Kota Surabaya. Sehari pasca pelatihan, saya mengunjungi monument kapal selam, museum Rokok Sampoerna, Museum Pahlawan, jembatan yang sempat menimbulkan kesowatan antara SBY dengan Megawati yakni jembatan Suramadu dan malam harinya ke lokalisasi terbesar se- Asia Tenggara nan legal. Dolly orang menyebutnya.
Hmmm… Dari sekian lokasi yang saya kunjungi, satu lokasi yang pasti teman-teman juga akan tergelitik lidahnya untuk menceritakan kembali suasana di Lokalisasi Dolly. Kebetulan, waktu kami mengunjungi lokasi itu pada malam hari. Konon, justru pada malam harilah, suasana akan semakin hidup.
Mobil Timor tua yang kami tumpangi memang sudah kami atur kecepatannya antara 15-20 KM saja. Tak jauh dari pintu masuk Gang Dolly terdapat masjid. Nampak beberapa jamaah berangsur-angsur meninggalkan masjid usai menunaikan sholat isya. Yasin, sebagai pemandu kami sembari mengendalikan laju mobil yang kami tumpangi juga memberikan sedikit tentang kehidupan masyarakat di sekitar Gang Dolly.. Nampak para lelaki “Broker” berjajar sepanjang jalan, sebagian dari mereka melambaikan tangannya, menandakan meminta kurangi kecepatan bagi pengguna jalan. Isyarat itu juga pertanda, “Mas-mas, lihat loh saya punya barang oke, mampirlah barang sejenak saja”…
Sepanjang kami menyisiri Gang Dolly, kami melihat rumah-rumah bagaikan akuarium. Dimana didalamnya adalah wanita-wanita berpakaian seksi yang siap memberikan kepuasan lelaki hidung belang. Antara satu rumah dengan rumah lainnya memperdengarkan music yang volume suaranya memekakan telinga. Tidak jarang ditemui plank Club Karaoke berlogo “Bir Bintang”. Club-club itu ada yang Nampak terang benerang ada juga yang remang-remang.
Menurut keterangan Yasin yang pernah melakukan liputan di lokasi Dolly, tariff yang ditawarkan perempuan tuna susila di Gang Dolly ini bermacam-macam. Kisarannya antara Rp 85 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung nilai kepuasan dan keoriginalan si wanitanya (mungkin). Dalam 1 bulan, penghasilan si wanita tuna susila di Gang Dolly ini, menurut Yasin minimal mengantongi sedikitnya Rp 8 juta.(hmmm…banyak juga ya).
Tapi, ada yang menarik dari cerita Yasin, bahwa sebenarnya para wanita yang menjajakan dirinya di Gang Dolly ini, ternyata bukan korban trafficking (perdagangan manusia), mereka bias ada di sana karena kesadaran diri sendiri yang ingin mendapatkan uang banyak secara mudah dan singkat. Dan satu lagi keunikannya, bahwa disekitar lokalisasi itu juga disiapkan perpustakaan, konon diperuntukan bagi anak-anak PSK, agar mereka juga dapat akses keilmuan, kelak mereka tidak menjadi seperti orang tuanya.
**
Hmmm… begitulah sekelumit cerita Gang Dolly yang bias saya sampaikan. Miris rasanya dada ini melihatnya, hingga sesampaikan kami dipenghujung Gang Dolly, kami betul-betul menghenduskan nafas kelegaan. Yang saya ketahui, Surabaya adalah kota besar. Yang saya ketahui, Surabaya kota yang tertata rapih dan tertib lalu lintasnya. Surabaya yang saya ketahui adalah kota santri, tapi yang saya ketahui juga bahwa Surabaya juga kota yang besar tingkat kemaksiatannya.
Pertanyaan besar dalam benak saya, apa alas an pemerintah Surabaya melegalkan lokalisasi itu? Mungkin pertanyaan ini terkesan “lugu” tapi sungguh, sebagai orang yang menganut budaya timur, saya merasa asing dengan kebijakan pemerintah daerah setempat. Dan yang membuat saya semakin penasaran, kemana suara para ulama di sana? Yang saya tahu, ulama paling pinter buat fatwa, tapi mengapa untuk kasus yang satu ini, saya tidak pernah dengar fatwa ulamanya?
Nasib Rakyat yang tak Punya Jamkes Pemerintah
Mungkin agak tendensi saat saya mengangkat permasalahan ini ke public. Pasalnya orang yang tertimpa masalah ini tidak lain adalah tetangga saya sendiri. Biar nyambung alur ceritanya, maka saya akan menguraikan rangkaian cerita sedari awal.
Saya lupa persisnya kedatangan tetangga depan rumah. Dia mempertanyakan proses-proses mengurus Siti (tetangga lainnya) yang dulu pernah saya bantu mengurus untuk mendapatkan jaminan bebas biaya kesehatan rawat inap di rumah sakit. Saya menceritakan tahap awal hingga akhirnya betul-betul si pasien bias di rawat. Mendengar penjelasan itu, Ibu Eka tetangga depan manggut-manggut, dia piker prosesnya tidak sulit asalkan ada 2 persyaratan mutlak yaitu Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).
Waktu terus berjalan, ibu Eka pun menjalani proses yang saya ceritakan dari awal. Cerita punya cerita ternyata Ibu Eka mengalami kesulitan untuk membantu tetangganya yang tengah sakit parah. Jupri namanya, usia 55 tahun. Berdasarkan diagnose dokter, Jupri mengalami sakit kanker disaluran Hidung Telinga dan Tenggorokan (THT). Dokter yang mendiagnosa menyarankan untuk dirujuk di Rumah Sakit Abdul Muluk (RSUAM) Lampung, namun diujung saran dokter tersebut, bahwa di Lampung tidak ada alat untuk menghambat pertumbuhan daging tumbuh yang terletak disaluran THT {ak Jupri. Dokter menyarankan, perawatan Jupri dilakukan di RS Jakarta atau Palembang.
Benar saja apa yang dikatakan dokter yang mengani Jupri. RSUAM tidak punya alat penyembuhan penyakit yang Jupri derita. Akhirnya, dengan biaya yang serba pas-pasan, Jupri tetap diberangkatkan ke Jakarta. Pertimbangan keluarga, nanti setelah ketahuan penyakit, pengobatan serta biaya yang dibutuhkan, baru pihak keluarga mengurus ini-itu supaya dapat keringanan berobat.
Setelah didiagnosa ulang, ternyata Jupri menderita sakit yang berjenis kanker penyakit itu bernama Karsinoma Nasofaring. Persis dugaan dokter yang menanganinya dulu di Lampung, bahwa Jupri menderita kanker dibagian saluran THT berstadium 3. Pihak RSCM menyarankan di kemoterapi dan penyinaran untuk menghambat pertumbuhan kanker tersebut. Sinar penghambat pertumbuhan kanker itu memang adanya hanya di kota besar. Jadi perawatan Jupri mutlak tidak bias di Bandar Lampung.
Sementara, RSCM tidak menyarankan pengangkatan daging tumbuh itu karena akan mempengaruhi struktur wajah Jupri karena posisi daging tersebut tepat dibagian dalam hidung. Total biaya yang dibutuhkan dalam pengobatan Jupri ditaksir mencapai Rp 50 juta.
Jupri yang kesehariannya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak pasti perbulannya mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, tentu berpikir keras, bagaimana dapat menjalani pengobatan yang relative mahal itu. Pihak RSCM menyarankan Jupri untuk mengurus klaim biaya pengobatan kepada pemerintah tempat Jupri berdomisili.
Ibu Eka dan Pak Rojali sebagai mewakili pihak keluarga mengikuti saran pihak RSCM, berinisiatif untuk mengurus Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesmas), namun saying, Jupri tidak tercatat dalam daftar warga yang berhak menerima Jamkesmas akan tetapi Jupri terdata dalam daftar warga yang menerima Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
Sebagai informasi saja, bahwa sebenarnya ketika seorang warga memegang kartu Jamkesmas maka kartu tersebut berlaku diseluruh rumah sakit se-Indonesia. Demikian juga ketika seorang warga memegang kartu Jamkesda maka warga tersebut dapat jaminan kesehatan di daerah setempat. Sekali lagi, Jupri tidak mendapatkan kartu Jamkesmas. Jadi Jupri tidak mendapat akses rumah sakit seluruh Indonesia. Dan semua cara yang disarankan dari RSCM dijalankan agar mendapat kartu jaminan itu.
RSCM pun menyurati dinas terkait. Intinya meminta jaminan pengobatan atas pasien yang bernama Jupri asal Bandar Lampung, Lampung. Surat pembiayaan kesehatan pun sampai ke dinas terkait. Berdasarkan surat nomor 440.1.387.09.2011 ditandatangani sekretaris Mu’min menerangkan sebagai berikut:
Pemerintah Kota Bandar Lampung telah menganggarkan untuk Program Jamkesda dan telah melaksanakan MoU dengan 10 Rumah Sakit Tipe C dan dua Rumah Sakit Tipe B (khusus untuk Rumah Sakit Provinsi Lampung), sehubungan dengan keterbatasan dana kami belum melaksanakan MoU dengan Tipe A (Rumah Sakit Nasional) dan RS Tipe C dan B di luar Provinsi Lampung.
Berikutnya diterangkan juga bahwa untuk RS yang melayani pasien Jamkesda dapat dibayarkan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung, jika RS tersebut telah melaksanakan MoU dengan pemerintah Kota Bandar Lampung.
Sehubungan dengan hal itu, maka pemerintah Kota Bandar Lampung menyatakan tidak dapat memberikan jaminan pembiayaan atas pasien tersebut. Atas nama Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung ditandatangani dan ditembuskan kepada Walikota Bandar Lampung dan pihak yang bersangkutan.
**
Yang menjadi pertanyaan, seberapa besar kekuatan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang kaitan dengan segelintir rakyat ini. Tidakkah ada jalan lain untuk menyelamatkan orang kecil ini yang memang betul-betul mengharapkan pertolongan pemerintah sebagai penentu kebijakan.
Kami atas nama rakyat sangat mengapresiasi dan sangat menghargai upaya pemerintah dalam memberikan jaminan kesehatan pada rakyat miskin. Kami juga mengetahui, bahwa penentu kebijakan ini juga adalah manusia yang penuh dengan khilaf dan salah. Demikian pula pihak yang melakukan pendataan dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS).
Seingat saya, pemerintah akan melakukan pendataan ulang terhadap warga yang menerima jaminan kesehatan itu. Tapi yang menjadi pertanyaan, seberapa besar upaya BPS untuk mengerahkan angotanya dalam melakukan pendataan ulang itu? Mengapa masih ada saja orang kaya mendapatkan kartu Jamkes dan masih ada juga orang miskin yang kesulitan mendapatkan Jamkes? Mungkin keterbatasan informasi hingga saya tidak mengetahui perkembangan aktifitas yang berkaitan dengan hajat orang banyak ini,
Saya kira, masih banyak orang miskin yang bernasib sama seperti Jupri ini (tidak terdata masyarakat jamkes, namun akhirn namun akhirnya terbentur ketika betul-betul sakit), lantas apakah sang pemangku kebijakan tetap akan kekeuh dengan ketentuan yang ada? Atau adakah solusi konkrit diluar kebijakan sebelumnya? Kebijakan yang dapat mengakomodir hak orang miskin yang tertinggal.
Asal diketahui saja, masih banyak orang miskin yang kebingungan untuk mendapatkan jamkes yang sudah menjadi program nasional itu. Rakyat yang memang tidak peduli atas kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah? Atau sosialisasi aparat terkait yang kurang massif? Wallahualam, tidak ada yang sempurna manusia di dunia ini, tapi sekali lagi, penulis yakin, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua kekeliruan yang terjadi.[]
Saya lupa persisnya kedatangan tetangga depan rumah. Dia mempertanyakan proses-proses mengurus Siti (tetangga lainnya) yang dulu pernah saya bantu mengurus untuk mendapatkan jaminan bebas biaya kesehatan rawat inap di rumah sakit. Saya menceritakan tahap awal hingga akhirnya betul-betul si pasien bias di rawat. Mendengar penjelasan itu, Ibu Eka tetangga depan manggut-manggut, dia piker prosesnya tidak sulit asalkan ada 2 persyaratan mutlak yaitu Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).
Waktu terus berjalan, ibu Eka pun menjalani proses yang saya ceritakan dari awal. Cerita punya cerita ternyata Ibu Eka mengalami kesulitan untuk membantu tetangganya yang tengah sakit parah. Jupri namanya, usia 55 tahun. Berdasarkan diagnose dokter, Jupri mengalami sakit kanker disaluran Hidung Telinga dan Tenggorokan (THT). Dokter yang mendiagnosa menyarankan untuk dirujuk di Rumah Sakit Abdul Muluk (RSUAM) Lampung, namun diujung saran dokter tersebut, bahwa di Lampung tidak ada alat untuk menghambat pertumbuhan daging tumbuh yang terletak disaluran THT {ak Jupri. Dokter menyarankan, perawatan Jupri dilakukan di RS Jakarta atau Palembang.
Benar saja apa yang dikatakan dokter yang mengani Jupri. RSUAM tidak punya alat penyembuhan penyakit yang Jupri derita. Akhirnya, dengan biaya yang serba pas-pasan, Jupri tetap diberangkatkan ke Jakarta. Pertimbangan keluarga, nanti setelah ketahuan penyakit, pengobatan serta biaya yang dibutuhkan, baru pihak keluarga mengurus ini-itu supaya dapat keringanan berobat.
Setelah didiagnosa ulang, ternyata Jupri menderita sakit yang berjenis kanker penyakit itu bernama Karsinoma Nasofaring. Persis dugaan dokter yang menanganinya dulu di Lampung, bahwa Jupri menderita kanker dibagian saluran THT berstadium 3. Pihak RSCM menyarankan di kemoterapi dan penyinaran untuk menghambat pertumbuhan kanker tersebut. Sinar penghambat pertumbuhan kanker itu memang adanya hanya di kota besar. Jadi perawatan Jupri mutlak tidak bias di Bandar Lampung.
Sementara, RSCM tidak menyarankan pengangkatan daging tumbuh itu karena akan mempengaruhi struktur wajah Jupri karena posisi daging tersebut tepat dibagian dalam hidung. Total biaya yang dibutuhkan dalam pengobatan Jupri ditaksir mencapai Rp 50 juta.
Jupri yang kesehariannya bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak pasti perbulannya mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, tentu berpikir keras, bagaimana dapat menjalani pengobatan yang relative mahal itu. Pihak RSCM menyarankan Jupri untuk mengurus klaim biaya pengobatan kepada pemerintah tempat Jupri berdomisili.
Ibu Eka dan Pak Rojali sebagai mewakili pihak keluarga mengikuti saran pihak RSCM, berinisiatif untuk mengurus Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesmas), namun saying, Jupri tidak tercatat dalam daftar warga yang berhak menerima Jamkesmas akan tetapi Jupri terdata dalam daftar warga yang menerima Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
Sebagai informasi saja, bahwa sebenarnya ketika seorang warga memegang kartu Jamkesmas maka kartu tersebut berlaku diseluruh rumah sakit se-Indonesia. Demikian juga ketika seorang warga memegang kartu Jamkesda maka warga tersebut dapat jaminan kesehatan di daerah setempat. Sekali lagi, Jupri tidak mendapatkan kartu Jamkesmas. Jadi Jupri tidak mendapat akses rumah sakit seluruh Indonesia. Dan semua cara yang disarankan dari RSCM dijalankan agar mendapat kartu jaminan itu.
RSCM pun menyurati dinas terkait. Intinya meminta jaminan pengobatan atas pasien yang bernama Jupri asal Bandar Lampung, Lampung. Surat pembiayaan kesehatan pun sampai ke dinas terkait. Berdasarkan surat nomor 440.1.387.09.2011 ditandatangani sekretaris Mu’min menerangkan sebagai berikut:
Pemerintah Kota Bandar Lampung telah menganggarkan untuk Program Jamkesda dan telah melaksanakan MoU dengan 10 Rumah Sakit Tipe C dan dua Rumah Sakit Tipe B (khusus untuk Rumah Sakit Provinsi Lampung), sehubungan dengan keterbatasan dana kami belum melaksanakan MoU dengan Tipe A (Rumah Sakit Nasional) dan RS Tipe C dan B di luar Provinsi Lampung.
Berikutnya diterangkan juga bahwa untuk RS yang melayani pasien Jamkesda dapat dibayarkan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung, jika RS tersebut telah melaksanakan MoU dengan pemerintah Kota Bandar Lampung.
Sehubungan dengan hal itu, maka pemerintah Kota Bandar Lampung menyatakan tidak dapat memberikan jaminan pembiayaan atas pasien tersebut. Atas nama Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung ditandatangani dan ditembuskan kepada Walikota Bandar Lampung dan pihak yang bersangkutan.
**
Yang menjadi pertanyaan, seberapa besar kekuatan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang kaitan dengan segelintir rakyat ini. Tidakkah ada jalan lain untuk menyelamatkan orang kecil ini yang memang betul-betul mengharapkan pertolongan pemerintah sebagai penentu kebijakan.
Kami atas nama rakyat sangat mengapresiasi dan sangat menghargai upaya pemerintah dalam memberikan jaminan kesehatan pada rakyat miskin. Kami juga mengetahui, bahwa penentu kebijakan ini juga adalah manusia yang penuh dengan khilaf dan salah. Demikian pula pihak yang melakukan pendataan dalam hal ini Badan Pusat Statistik (BPS).
Seingat saya, pemerintah akan melakukan pendataan ulang terhadap warga yang menerima jaminan kesehatan itu. Tapi yang menjadi pertanyaan, seberapa besar upaya BPS untuk mengerahkan angotanya dalam melakukan pendataan ulang itu? Mengapa masih ada saja orang kaya mendapatkan kartu Jamkes dan masih ada juga orang miskin yang kesulitan mendapatkan Jamkes? Mungkin keterbatasan informasi hingga saya tidak mengetahui perkembangan aktifitas yang berkaitan dengan hajat orang banyak ini,
Saya kira, masih banyak orang miskin yang bernasib sama seperti Jupri ini (tidak terdata masyarakat jamkes, namun akhirn namun akhirnya terbentur ketika betul-betul sakit), lantas apakah sang pemangku kebijakan tetap akan kekeuh dengan ketentuan yang ada? Atau adakah solusi konkrit diluar kebijakan sebelumnya? Kebijakan yang dapat mengakomodir hak orang miskin yang tertinggal.
Asal diketahui saja, masih banyak orang miskin yang kebingungan untuk mendapatkan jamkes yang sudah menjadi program nasional itu. Rakyat yang memang tidak peduli atas kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah? Atau sosialisasi aparat terkait yang kurang massif? Wallahualam, tidak ada yang sempurna manusia di dunia ini, tapi sekali lagi, penulis yakin, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua kekeliruan yang terjadi.[]
Monday, January 24, 2011
Sabar Kunci Menuju Keberhasilan
Selasa yang penuh dengan keceriaan. Ku mengikuti sebuah pelatihan yang sebetulnya aku sendiri sudah bisa mengoperasikan situs pribadi itu atau bahkan sudah bisa membuat tampilan yang menarik (menurutku). Tapi alakurihal, ku tetap terima undangan tersebut, karena sebetulnya bukan ilmu yang ingin ku dapatkan dari pelatihan itu, lebih pada sebuah sertifikat yang nantinya bermanfaat sebagai syarat ku menyusun tugas akhir disebuah institusi tempatku mengenyang pendidikan S-1.
Dipojokan, ku memposisikan diri dalam pelatihan itu. Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan tersebut selama 6 jam,, sungguh sebetulnya hal yang menjenuhkan, andaikan ku harus memperhatikan pembicara yang sepertinya tidak to the point dalam menyampaikan materi. Sepertinya mereka terlupa, bahwa sebetulnya audiens yang dihadapi, bukanlah remaja yang masih punya semangat belajar yang baik daripada ibu-ibu perkumpulan.
Untuk mencapai sebuah inti materi, mereka berbicara panjang lebar dan global. Sungguh menjenuhkan dan menjelimet. Tapi sudahlah, semua itu sudah berjalan, toh hingga aku menuliskan tulisan ini, para ibu-ibu perkumpulan itu masih tetap setia mengikuti setahap demi setahap pemateri.
Yah, pelatihan ini difasilitasi oleh Badan Kerjasam Organisasi Wanita (BKOW) Lampung. Luar biasa, semangat belajar ibu-ibu ini cukup baik. Badan ini bercita-cita setiap wanita yang tergabung didalamnya, meskipun ibu rumah tangga, tapi punya keahlian mengoperasionalkan blog bahkan mengisi blog tersebut dengan tulisan yang menarik serta mendidik pembaca blog mereka.
Kalau ku amati, mungkin usia mereka berkisar antara 30 sampai 60 tahun ke atas. Ku perhatikan, perlakuan mereka terhadap laptop dan PC seperti halnya perlakuan mereka membuat kue yang lezat..pelan-pelan sekali, teliti sekali, sabar sekali. he.he.he. jadi lucu melihatnya.
Demikian juga dengan tenaga pelatih, mereka tampak sabar mengajari. Proses demi proses mereka ajarkan dan mereka periksa demi sebuah tujuan pelatihan tersebut. Luar biasa.Idealnya dalam pelatihan itu bisa diselesaikan selama 2 jam, namun audiens adalah emak-emak, akhirnya prosesnya bisa menjadi mulur beberapa waktu.
**
Ibroh apa yang bisa kita ambil dari pengalaman yang sederhana ini?
Bahwa sebetulnya, sebuah cita-cita tidak serta merta terwujud secara instan. Merubah orang dari tidak tahu menjadi tahu itu juga tidak cepat dan mudah, Butuh waktu dan butuh ketelatenan, apalagi orang yang kita hadapi, meskipun jenisnya sama, tapi tetap memiliki kapasitas, daya nalar yang berbeda-beda. Ditambah lagi, individu yang dihadapi adalah orang yang sudah banyak makan asam garam (tua). Tentu, butuh kesabaran yang ekstra.
Tapi sekali lagi saya coba sampaikan, bahwa apapun kondisinya, jika kedua belah pihak bisa saling melengkapi, maka bukan hal yang mustahil tujuan itu bisa tercapai dengan gemilang.
Di sini, dalam kehidupan yang belum ku ketahui secara pasti penghujungnya, ku memiliki sebuah mimpi yang sungguh ingin rasanya terwujud. Meskipun, sebuah mimpi itu sebetulnya terlambat ada dalam benakku, Alhamdulillah, tahapan demi tahapannya sudah ku lewati. Tinggal menunggu hasil akhir dari sebuah ikhtiar..
Dipojokan, ku memposisikan diri dalam pelatihan itu. Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pelatihan tersebut selama 6 jam,, sungguh sebetulnya hal yang menjenuhkan, andaikan ku harus memperhatikan pembicara yang sepertinya tidak to the point dalam menyampaikan materi. Sepertinya mereka terlupa, bahwa sebetulnya audiens yang dihadapi, bukanlah remaja yang masih punya semangat belajar yang baik daripada ibu-ibu perkumpulan.
Untuk mencapai sebuah inti materi, mereka berbicara panjang lebar dan global. Sungguh menjenuhkan dan menjelimet. Tapi sudahlah, semua itu sudah berjalan, toh hingga aku menuliskan tulisan ini, para ibu-ibu perkumpulan itu masih tetap setia mengikuti setahap demi setahap pemateri.
Yah, pelatihan ini difasilitasi oleh Badan Kerjasam Organisasi Wanita (BKOW) Lampung. Luar biasa, semangat belajar ibu-ibu ini cukup baik. Badan ini bercita-cita setiap wanita yang tergabung didalamnya, meskipun ibu rumah tangga, tapi punya keahlian mengoperasionalkan blog bahkan mengisi blog tersebut dengan tulisan yang menarik serta mendidik pembaca blog mereka.
Kalau ku amati, mungkin usia mereka berkisar antara 30 sampai 60 tahun ke atas. Ku perhatikan, perlakuan mereka terhadap laptop dan PC seperti halnya perlakuan mereka membuat kue yang lezat..pelan-pelan sekali, teliti sekali, sabar sekali. he.he.he. jadi lucu melihatnya.
Demikian juga dengan tenaga pelatih, mereka tampak sabar mengajari. Proses demi proses mereka ajarkan dan mereka periksa demi sebuah tujuan pelatihan tersebut. Luar biasa.Idealnya dalam pelatihan itu bisa diselesaikan selama 2 jam, namun audiens adalah emak-emak, akhirnya prosesnya bisa menjadi mulur beberapa waktu.
**
Ibroh apa yang bisa kita ambil dari pengalaman yang sederhana ini?
Bahwa sebetulnya, sebuah cita-cita tidak serta merta terwujud secara instan. Merubah orang dari tidak tahu menjadi tahu itu juga tidak cepat dan mudah, Butuh waktu dan butuh ketelatenan, apalagi orang yang kita hadapi, meskipun jenisnya sama, tapi tetap memiliki kapasitas, daya nalar yang berbeda-beda. Ditambah lagi, individu yang dihadapi adalah orang yang sudah banyak makan asam garam (tua). Tentu, butuh kesabaran yang ekstra.
Tapi sekali lagi saya coba sampaikan, bahwa apapun kondisinya, jika kedua belah pihak bisa saling melengkapi, maka bukan hal yang mustahil tujuan itu bisa tercapai dengan gemilang.
Di sini, dalam kehidupan yang belum ku ketahui secara pasti penghujungnya, ku memiliki sebuah mimpi yang sungguh ingin rasanya terwujud. Meskipun, sebuah mimpi itu sebetulnya terlambat ada dalam benakku, Alhamdulillah, tahapan demi tahapannya sudah ku lewati. Tinggal menunggu hasil akhir dari sebuah ikhtiar..
Saturday, January 22, 2011
Kalau Presiden saja Berkeluh, Bagaimana dengan Rakyat?
Sungguh serba salah di posisi Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden Republik Indonesia, berargumen salah tak berargumen pun tetap disalahkan. Padahal dari awal kepemimpinannya SBY selalu ingin jadi sosok yang tak pernah cacat di mata rakyatnya.
Dua kali kurun waktu Per Januari 2011, SBY seperti berada dalam posisi pesakitan. Diawali dari kritikan pedas para tokoh agama yang menilai SBY melakukan kebohongan publik karena mereka menilai tidak ada singkronisasi antara ucapan dengan realita yang ada. Kemudian tak begitu lama, SBY coba menumpahkan isi hatinya dalam piato kenegaraannya di hadapan petinggi TNI-Polri. Seperti ini kurang lebih petikan curhat SBY dalam rapat tersebut "Remunerasi telah diberikan untuk meningkatkan kinerja kinerja dan prestasi," Kata SBY. Kalau penulis amati presiden sempat terdiam sejenak lalu melanjutkan kembali "Sampaikan pada jajaran TNI dan Polri, ini tahun ke tujuh gaji presiden tidak naik. Betul" Tegasnya.
Sebagai seorang negarawan, siapapun bersepakat, rasanya tidak pantas kata-kata itu menggelontor dengan renyahnya dari seorang kepala negara. Sungguh SBY telah mengabaikan kenikmatan lainnya sebelum dirinya berkeluh-kesah. Tidakkah dia ingat, kapasitasnya sebagai kepala negara sebenarnya sangat mudah baginya untuk menentukan berapa jumlah gaji yang sebenarnya dia inginkan untuk diterima. Tidakkah dia ingat, bahwa dirinya bukan sebagai karyawan apalagi buruh yang menuntut kenaikan gajinya demi kelaikan hidup. Tidakkah dia ingat, bahwa sebetulnya masih banyak rakyat yang menjerit karena gaji yang didapat sangat jauh dari standar yang semestinya.
Dalam sebuah Situs Online Republika dikatakan, menurut majalah bergengsi asal Inggris, The Economist, gaji presiden di Indonesia adalah gaji dengan kesenjangan tertinggi ketiga dari 22 negara yang disurvei tahun lalu.
The Economist menyurvei soal gaji presiden atau perdana menteri yang dibandingkan dengan pendapatan per kapita masing-masing negara. Data tersebut secara tak langsung mencerminkan bagaimana kesederhanaan seorang kepala negara dan sekaligus kesenjangan pendapatan presiden dengan rakyatnya.
Berdasar urutan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menduduki ranking ketiga yang kesenjangan antara gaji dia dengan pendapatan per kapita masyarakat.
Gaji per tahun yang diterima Presiden SBY mencapai 124.171 dolar per tahun. Menurut catatan majalah itu, dengan angka tersebut berarti gaji SBY 28 kali lipat dari pendapatan per kapita. (Lihat tabel gaji para pemimpin dunia versi Economist).
Urutan nomor pertama kesenjangan gaji tertinggi adalah presiden Kenya yang gajinya pokoknya 427.886 dolar yang berarti 240 kali lipat dari pendapatan per kapita rakyatnya. Di susul urutan kedua PM Singapura yang besarnya gaji 2.183.516 dolar atau 42 kali lipat pendapatan per kapitan rakyat Singapura.
Paparan di atas cukuplah bisa dijadikan bahan perbandingan sebelum seorang kepala negara atau pejabat di negeri ini berkeluh-kesah tentang pendapatan pokok yang diterimanya per bulan. Penulis bersepakat dengan komentar Pengamat Politik Ikrar Nusa Bakti yang mengatakan tidak sepantasnya seorang negarawan yang mengeluhkan gajinya ditengah kondisi bangsa yang serba krisis. kalaupun ingin menaikan gaji, sebaiknya sebaiknya disimpan rapat-rapat, jangan sampai ketahuan publik karena hal itu hanya akan melukai perasaan rakyat miskin saja.
**
Terkait keluhan gaji presiden yang tak kunjung naik selama kurun waktu 7 tahun, penulis sedikit saja melakukan perbandingan antara pemimpin penulis dengan dirinya sebagai seorang jurnalis. Andaikan saja, penulis boleh sedikit saja berkeluh kesah, jujur penulis katakan, honor liputan sebesar Rp 15 ribu rupiah. Honor itu bersih sekali liputan dan sekali mengudara, tidak mempedulikan jangkauan lokasi ataupun cost yang sesungguhnya dikeluarkan selama proses peliputan.(Ups curhat nie..)
Memang tidak sepantasnya membandingkan antara gaji presiden dan gaji penulis, toh secara kapasitas, tanggung jawab presiden lebih luas daripada penulis. Tapi justru dengan kapasitas itulah yang menentukan kepantasan seseorang untuk berkeluh-kesah.
Ada sebuah ayat quran yang menegaskan bahwa "Barang siapa yang bersyukur akan nikmat ya Ku berikan makan nicaya akan Ku tambah nikmat itu. Tapi barang siapa yang tidak bersyukur, maka yakinlah, azab Ku sangat pedih.."
Semoga ayat tadi ampuh mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur atas sekecil apapun nikmat Allah yang diberikan pada kita. Sebelum kita berkeluh kesah, mari kita hitung-hitung terlebih dahulu berapa total nikmat Allah yang sudah kita rasakan sehari ini saja, lalu bandingkan dengan keluhan yang meradang didalam hati. Ayat ini akan membuat kita berfikir ulang sebelum berkeluh kesah. Wallahualam.
Tuesday, January 18, 2011
Sekarang Zamannya Unjuk Kinerja bukan Pencitraan
Sembari menyusun tugas akhir, yang sekarang meskipun belum mengetahui apakah yang ku tuliskan itu sesuai bisa berkesesuaian dengan inti masalah yang ada, tapi alhamdulillah sudah sampai bab tiga. Semoga 1 bulan sudah bisa beres.. Dalam proses menyelesaikan tugas ini, satu sisi ku diminta fokus, total dengan tugas kuliah, tapi satu sisi, saya juga orang dewasa yang dituntut kemandiriannya secara spirit dan finansial. Aku berharap, semoga ini tidak menjadi kendala yang berarti buatku.(Eit..bukan itu yang mau jadi topik pembicaraan kali ini).
Ada peristiwa yang ku pikir sayang rasanya kalau pengamatan ini tidak tertuangkan dalam fasilitas blog ini. Peristiwa ini menurutku cukup menganggu kenyamanan pemerintah ditengah mengerjakan tugas-tugas kenegaraan.
Dien Syamsudin sebagai pengagas ide dengan sejumlah tokoh lintas agama Senin (17-01) menggelar sebuah konferensi yang dihadiri sejumlah tokoh lintas agama. Dalam pertemuan itu, intinya mereka mengkritisi kinerja pemerintahan yang di nilai tidak cepat tanggap dalam menyelesaikan persoalan krusial bangsa ini, yakni permasalahan korupsi yang tak kunjung ada penyelesaian nyata dari para aparat hukum.
Pemerintah dan aparat terkait justru saling lempar kewenangan, masing-masing merasa tidak berkompeten dalam mengusut dan menuntaskan permasalahan korupsi. Seorang Gayus Tambunan sepertinya tampak besar dan berpengaruh untuk melumpuhkan keperkasaan dan kedigdayaan hukum di Indonesia.
Permasalahan Gayus ibarat cerita sinetron yang terkesan bertele-tele hingga membuat penontonnya geram dengan alur cerita yang dibuat oleh sang sutradara. Ada saja yang membuat aktor antagonisnya leluasa mengkerdilkan aktor protagonis. Gayus selalu punya seribu cara untuk bisa melenggang bebas dari rumah tahanan, meskipun statusnya sebagai tahanan.
Dan, aparat pemerintahan kebakaran jenggot manakala masyarakat mendapatkan bukti dan mengeksposenya temuan-temuan itu di media. Bukan sekali saja Gayus terpegok tengah menikmati suasana liburan saat dia ditetapkan sebagai terdakwa sekaligus tahanan. Dan seperti biasa, pihak-pihak berkepentingan sibuk melacak lalu menangkap Gayus.
Ooh..Sungguh pemandangan yang memalukan Indonesia di mata Internasional. Seburuk inikah wajah hukum negeriku tercinta dalam menyelesaikan kasus mafia hukum? Sebegitu rumitkah undang-undang kita hingga sulit bagi aparat penegak hukum untuk menangkap dan memenjarakan seorang Gayus? atau memang benar dugaan para pengamat di negeri ini, bahwa sebenarnya memang ada orang-orang kuat dibelakang Gayus. Gayus adalah bagian dari penderita dari subjek koruptor kelas hiu.
Bagaimana kita atau bangsa lain bisa percaya sepenuhnya dengan aparat penegak hukum di negeri ini jika kecacatan demi kecacatan selalu nampak? Sementara pemerintah, meskipun tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sesungguhnya cacat, namun dengan percaya diri terus tebar pencitraan..
Hei..Hei..Sadarlah, wake up Please..ini bukan zaman kampanye, tapi Anda memang benar-benar sudah menjadi penguasa di negeri ini, bukan cuma 1 kali tapi sudah 2 kali. Rakyatmu menunggu kerja nyata atas janji yang sudah terlontarkan.. Jangan pusingkan dengan pencitraan, karena pencitraanmu akan terbangun dengan sendirinya dengan kinerja nyata yang diperbuat selama masa kepemimpinan.
Kerja nyata itu tidak cuma tertuang dalam rekomendasi, tapi betul-betul mengungkap pelaku kelas besar, lalu menghadirkannya ke meja hijau hingga memutuskan hukuman yang berdampak jera bagi pelaku maupun pelaku yang baru memikirkan akan melakukan.
Kami sebagai rakyat, merasa bangga dengan sikap kritis para tokoh lintas agama yang telah mengeluarkan kritik keras pada pemerintah hingga membuat telinga memanas dan menghujam jantung. Bayangkan secara lantang dalam pernyataan sikap para tokoh tersebutkan bahwa selama ini janji pemerintah tidak pernah terlaksana, semua hanyalah kebohongan publik belaka. Semoga ini adalah awalan dari sebuah penegakan hukum secara adil dan merata di bumi pertiwi ini.
Tuesday, January 11, 2011
EO Termehek-mehek
Alhamdulillah, tetanggaku sudah mendapatkan haknya dari tetangga lainnya. Sebut saja Siti Halimah, dia seorang ibu rumah tangga, usianya 22 tahun memiliki satu putra yang baru berusia 5 bulan, suaminya bekerja sebagai buruh panggul beras di Pasar Bambu Kuning. Siti beserta suami dan anaknya untuk sementara waktu tinggal ditempat ibu mertua. Bersyukur, kelihatannya Siti mempunyai mertua yang pengertian lagi saying padanya. Hal itu dibuktikan, saat Siti sakit, ibu mertuanya yang pontang-panting mengurus Ihsan (anak Siti).
**
Pertengahan bulan Desember 2010, Siti bermain ke rumah orangtuanya yang terletak dibilangan Flamboyan, Enggal, Bandar Lampung. Siti ingin menjenguk kedua orangtuanya yang sakit-sakitan. Si abah sakit Prostat sementara emak sakit batuk-batuk, konon cerita, emak punya penyakit TB paru yang belum tersembuhkan.
Hari kian sore, Hendra (suami Siti) mengajak Siti untuk pulang ke Kaliawi. Siti Nampak berat meninggalkan rumah orangtuanya, karena rasa rindu yang sembuh terobati. Bagaimanapun juga, Siti adalah istri yang sudah semestinya tidak membantah ajakan suami. Siti pun pulang dengan menanggung rasa rindu kepada emak dan abah yang belum tertuntaskan.
Azan magrib berkumandang, SIti beserta suami dan anaknya pun sampai di rumah mertua di Kaliawi. Wajah emak dan abah pun belum lenyap dari baying-bayang Siti. Pikiran yang terus tertuju pada emak dan abah membuat Siti akkhirnya meriang. Tubuhnya panas-dingin, batuk-batuk yang sudah seminggu pun semakin mengguncang jantungnya, tanpa dikehendaki, darah segar keluar dari mulut Siti.
Meskipun sudah batuk darah, suami SIti tidak langsung membawanya ke puskesmas terdekat, karena memang batuk yang Siti alami, memang sudah lama dan dianggap biasa. Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan SIti semakin menurun, barulah Hendra dan keluarganya mengajak SIti periksa ke puskesmas.. Dokter yang bertugas tidak bias mengatakan penyakit yang diderita SIti, dan puskes tempat Siti periksa menyarankan untuk dirujuk di rumah sakit terdekat. Anjuran dari puskes diabaikan, SIti pun hanya menjalani perawatan alakadarnya. Tapi kondisi kesehatan Siti kembali menurun, Hendra memutuskan untuk membawanya ke dokter, namun, saying, dokter pun tidak bias menyebutkan secara pasti penyakit yang diderita Siti karena keterbatasan alat yang dimiliki dokter tersebut.
Melalui medis tidak juga kunjung sembuh, keluarga Siti pun memutuskan untuk melanjutkan pengobatannya ke altrnatif. Di sana, SIti disuruh makan hati kalong. Saran yang sungguh tidak bias masuk akal itu dia ikuti dengan sepenuh hati agar Siti kembali sembuh. Maklum selama sakit, Hendra berhenti bekerja karena harus bergantian merawa putranya bernama Ihsan juga Siti yang tergeletak lemah dipembaringan lantaran sakit yang belum diketahuinya itu.
**
Berita sakitnya Siti sebetulnya sudah seminggu ku dengar, aku tak menghiraukan, karena ku berfikir itu bukan sakit yang serius. Mungkin hanya maag saja karena yang ku tau, memang SIti tidak beraturan menjaga pola makannya, mungkin karena lambungnya sudah begitu sakit, hingga akhirnya batuk yang mengeluarkan darah. Umi Asfi (mba ku), terakhir mengabarkan kalau SIti sudah parah sakitnya, bahkan dia sudah meminta kedua orangtuanya untuk menemuinya dirumah mertua, khawatir tidak ada umur lagi.
Wah, ku seperti dibangunkan mendadak hingga ku terkaget mendengarnya. Ku coba hampiri rumah ibunya, ku bertanya secara langsung bagaimana kondisinya, kebetulan, Hendra ada di rumah Enggal, jadi ku bias mengetahui secara langsung dari mulut suaminya.
Baru kali itu ku menatap wajah lekat Hendra.. ku baru menyadari dibalik fisiknya yang legam lagi berotot itu, ternyata Hendra adalah suami yang lemah dalam melindungi istrinya Siti. Hendra sepertinya kebingungan bagaimana membantu pengobatan Siti yang sudah sekian hari tergeletak sakit. Bahkan saking bingungnya, Hendra berhenti sementara waktu dari pekerjaannya tapi di satu sisi, pikirannya tidak sampai untuk mengupayakan penyembuhan istri yang telah melahirkan anaknya. “Gimana mau kerja mba, Siti nya sakit ga sembuh-sembuh gitu,” kata Hendra.
Hendra lemah dalam mengambil keputusan dirawat di rumah sakit kah atau tidak? Kelemahan itu juga tampak dari 9 saudara kandung Siti lainnya. Yang mereka ketahui, setiap akan di rawat di rumah sakit pasti aka nada biaya yang harus dikeluarkan. Jangankan biaya rawat inap di rumah sakit, makan sehari-hari saja mereka susah.
Bukan bermaksud ingin menjelek-jelekan tetangga sendiri, tapi mungkin baru kali inilah aku menemui keluarga yang aneh. Keluarga ini gambaran kasarnya begini (maaf) sudah miskin, bodoh, malas bergerak dan tidak pedulian lagi.
Berkali-kali sudah ku jelaskan bahwa sebenarnya ada program jamkesmas dan jamkesmasda dari pemerintah, dijamin sepeserpun dalam pengobatan itu tidak di pungut biaya. Tapi sungguh mereka tidak menyambut antusias informasi yang ku sampaikan, yang ada ku hanya diperdengarkan dengan keluh-kesah mereka yang tidak ada inilah-itulah.. terlalu banyak pertimbangan hingga sakit Siti tak juga terobati.
Alhamdulillah, aku punya keluarga yang selalu mendukung langkah-langkahku, adikku, Zul orang yang paling setia menjadi ojek selama mengurus administrasi untuk mendapatkan jamkesmasda, meskipun jujur, awalnya ibuku juga ngomel. “Untuk apalah kau urusi orang itu, dia itu kan banyak sodaranya, satupun tak ada yang peduli. Urusi saja kuliahmu itu yang belum juga selesai sampai sekarang,” kata ibuku mengomeli ku. Memang tidak ada yang salah apa yang disampaikan ibuku itu, bukan yang pertama kami tetangganya membantu mengurus pengobatan gratisnya. Dan, sungguh, mereka tak kunjung cerdas menyelesaikan masalahnya sendiri, hingga diperlukan campur-tangan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya.
Tapi lagi-lagi ku hanya bias meyakinkan ibuku. “Bunda, kalau kita menolong orang Insya Allah, Allah akan menolong saat kita dalam kesulitan, yakinlah.. aku si, Cuma ga mau liat tetangga kita mati sebelum ajalnya dating karena ketidaktahuannya gimana mendapatkan haknya,” jawabku.
Saat tulisan itu ku buat, Alhamdulillah ku benar-benar telah menutaskan kewajibanku sebagai tetangga, semua berkas yang dibutuhkan untuk mendapatkan jaminan bebas biaya rawat inap pun sudah ku serahkan pada Hendra. Siti pun di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandar Lampung. Diagnose awal, dia menderita TB Paru. Kemungkinan pemicunya adalah pikiran atas derita nasib miskin yang tak kunjung lepas dari kehidupannya, kemungkinan lain, Siti tertular dari emaknya yang juga menderita TB paru yang sampai saat ini belum terobati secara medis. (Aku tidak tahu lagi mau bagaimana).[]
Thursday, January 6, 2011
Aku Harus Jadi SARJANA
Terkadang, pujian itu memberi energi bagi orang lain untuk terus berkarya. Tulisan ini sengaja ku tuliskan berangkat dari sejumlah komentar pembaca yang sempat mampir ke blog ini. Sekali lagi terima kasih..Tapi benar, bukan sekadar pujian yang membuat jemari ini berasa ringan untuk bergerak, melainkan ada sebuah pikiran dan juga tujuan agar orang lain banyak mengetahui apa yang telah penulis lihat dan pikirkan..
Tak terasa, tahun mulai berganti.. Ku sudah melewati 28 tahun masa tumbuh kembang lantas menjadi orang dewasa yang hingga kini, Allah masih percayakan ruh ini bergabung bersama jiwa Eni Muslihah. jujur ku katakan, sesungguhnya, aku adalah manusia yang tertinggal. Manusia yang terlambat menyadari pentingnya perjalanan hidup ini. Manusia yang trkadang naik turun dalam menghargai waktu. Sungguh, ku adalah orang yang lalai.. Ntah bagaimana nantinya ku bisa menceritakan pada anak cucuku tentang perjalanan hidup ini yang serba tertinggal. Manusia yang sudah berumur banyak tapi tidak sepadan dengan pengalaman yang mestinya didapatkan.
Aku teringat pesan Abdul Hakim (tokoh lokal Lampung) dalam sebuah pertemuan. Dia menceritakan bagaimana kebiasaan masyarakat Jepang hingga hidupnya betul-betul terarah yang berjalan sesuai perencanaan. "Masyarakat Jepang itu dispilin dan bertanggung jawab," kata Abdul Hakim..Dia menceritakan, transportasi di Jepang selalu sampai tujuan persis dengan waktu yang dijadwalkan semula.
Setiap manusia, sebetulnya dibekalkan dengan ukuran otak yang sama, tapi mengapa, ada manusia yang tertinggal dan tidak jarang ada manusia yang terus maju melesat bagaikan kilat.. Sekali lagi Abdul Hakim mengatakan, bahwa hari ini tidak sama dengan besok atau kemarin atau lusa. Jadi jangan pernah menunda pekerjaan..Jika kau menghendaki kejayaan..Allahu Akbar...ku telah banyak melalaikan pekerjaan ku. Terima kasih guruku,, meskipun pesan itu tidak secara langsung kau sampaikan untukku, tapi ku merasa, kata-katamu telah mengingatkan ku untuk kembali mengejar ketertinggalan ku.
Tahun ini 2011 adalah tahun yang menuntutku untuk menuntaskan segala pekerjaan yang sempat ku tinggalkan lama. PR kuliah yang harus rampung hingga bulan Maret..Tapi sungguh ku akui, sangat dituntut kesabaran dalam mengikuti setiap tahapan-tahapannya. Ada saja sepertinya pengganjal yang menurunkan semangatku untuk menuntaskan tanggungjawab itu, tapi sekali lagi Ya Allah.. apapun yang terjadi, sekalipun seluruh kampus mencibirku, mengkerdilkan ku, ku takkan menurunkan semangat yang sudah terlanjur pasang..
Alhamdulillah, saat ini sudah sampai tahap ACC judul. Meskipun terkadang ku membaca skripsi teman-teman begitu menjelimet dan terkesan bertele-teleh,,tapi ku yakin, masa itu pasti kan ku lewati..Suatu saat ku kan mengibarkan bendera kemenangan dan menyandang status sebagai seorang sarjanawan dibelakang namaku akan ada sebuah gelar yang sangat dinantikan keluarga dan ibuku. Apapun predikat nilaiku, pokoknya aku harus jadi S A R J A N A. Ku kan pertanggungjawabkan semua amanah yang dititipkan oleh orangtuaku..
Selamat tinggal tahun 2010 dan selamat datang tahun 2011,, ku yakin pergantian tahun ini kan mengiringiku menjadi manusia yang jauh lebih matang dalam berfikir dan bijak dalam bertindak serta sukses mempertanggungjawabkan amanah.[]
Monday, December 27, 2010
Saya Cuma Bisa Bangga Kalau Timnas Menang!
Sebetulnya saya bukan pecinta bola. Berkali-kali piala dunia, saat semua orang menjagokan ini-itu, saya justru menyibukkan diri dengan kegiatan lainnya, mungkin hal yang sama pun dilakukan kaum hafa pada umumnya. Tapi kali ini ada yang berbeda, sejak Team Nasional berlaga juga beberapa kali memenangkan pertandingan, saya jadi sedikit menyukai pertandingan bola. Suka bukan karena ada Irfan pemain naturalisasi yang kabarnya banyak digemari oleh wanita. Saya suka, karena Indonesia telah bangkit, terus berlatih hingga menaklukkan negara lain. Meskipun saat pertandingan dilakukan di luar Indonesia, justru pemain Timnas tidak terlihat gregetnya.
Opini yang berkembang, timnas kelelahan karena perjalanan jauh, timnas grogi bertanding di luar negeri, ada pula yang mengatakan pemain timnas banyak di ekploitasi dan dipolitisasi segelintir orang hingga akhirnya timnas tidak mencetak satu gol pun saat bertanding di Malaysia.
Masya Allah,, komentar berkembang begitu luas,khususnya TVOne, terus mengekspose komentar para komentator dari orang yang relevan untuk unjuk bicara masalah itu sampai orang yang sama sekali tidak pantas berkomentar yang ditayangkan lewat tanyangan Apakabar Indonesia pagi dan malam.
Dalam sebuah permainan sudah pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Dan mungkin perlu dipikirkan, bahwa sebetulnya tayangan-tayangan itu, secara psikologi justru memungkinkan mempengaruhi pemikiran individu-individu yang ada dalam tim itu. Please deh, jangan banyak bicara. Toh permainan ini belum berakhir, masih ada satu babak pertandingan lagi yang lebih menentukan apakah Garuda akan menang atau kalah dikandangnya sendiri.
Yang mereka butuhkan sekarang-sekarang ini, support dari pemerintah dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Hingga mereka tetap concern dengan pertandingan tanggal 29 mendatang dan melupakan kekalahan yang sudah terjadi. Ke depan, Indonesia terus bebenah perkuat team yang sudah ada ini, agar kelak Indonesia bisa berlaga di Piala Dunia 2014 serta mempersiapkan bibit pemain muda melalui penjaringan di akar rumput secara fair dan objektif.
Saya yakin kok, meskipun tidak faham benar tentang permainan sepakbola, melihat beberapa kali pertandingan timnas, nampaknya Indonesia punya kekuatan untuk masuk dalam ajang kompetisi piala dunia, tinggal perbaiki strategi permainan dan jangan pernah meratapi kekalahan..Inget Bung, dunia gak kan kiamat kok kalau kita kalah..Masih banyak kesempatan untuk membenahi itu semua.
Well,,akhirnya, saya cuma bilang, bahwa penonton jauh lebih pandai berkomentar daripada pemain. Makanya saya tidak mau ikut-ikutan komentar juga soal kekalahan timnas..Saya cuma bisa mendukung tim kita, saya cuma bisa bangga kalau timnas mengalahkan kembali Malaysia dan akhirnya meraih kejuaraan AFF..
Tuesday, December 7, 2010
Musim Haji, Musim Kawin
Bulan Dzulhijjah bertepatan dengan bulan November, pada bulan tersebut, sebagian umat muslim sedunia menunaikan ibadah haji, ibadah memenuhi panggilan Tuhan di tanah suci. Orang Indonesia menganggap bulan haji adalah bulan yang baik dari sekian bulan lainnya, mereka memanfaatkan bulan ini untuk melangsungkan sebuah akad yang sacral (Nikah) atau orang lebih senang menyebutnya bulan haji musim “kawin” tidak jarang ibu rumah tangga mengeluh dalam 1 bulan haji, bias mendapatkan undangan setiap minggu lebih dari 3 tempat.
Subhanallah, ku baru mengetahui, bahwa sebenarnya tidak semua orang senang mendapat undangan kebahagiaan orang lain. Ini lantaran mereka tidak senang dengan bersatunya dua insane dalam waktu yang bersamaan, namun sepertinya sudah menjadi undang-undang yang tak tertulis, bahwa setiap individu yang menerima undangan, harus hadir dan yang hadir sepertinya tidak afdhol kalau tidak membawa buah tangan. Buah tangan itu bias amplop beserta isinya atau juga kado. Buah tangan ini sebagai penanda bahwa khalayak turut berbahagia dan mendukung sang mempelai dengan materi untuk membangun sebuah keluarga yang baru.
Baginda Rosulullah SAW mengajarkan setiap kita yang telah melangsungkan sebuah akad nikah, sebaiknya mengundang khalayak dan mengumumkan pada khalayak ramaiatau lebih dikenal dengan walimatul “ursy bahwa si fulan bin si fulan telah menikahi si fulanah binti fulanah. Di zaman rosul, setidaknya sohibul hajat minimal memotong 1 ekor kambing saja guna menjamu para tetamu.
Tujuan Walimatul ‘ursy supaya kelak saat sang mempelai jalan berduaan dan bergandengan tangan tidak menimbulkan kecurigaan dari masyarakat luas. Subhanallah, begitu mulianya ajaran agama ini. Semua telah diatur sedemikian rupa dari hal yang kecil sampai urusan yang besar. Hmmm,,, namun ajaran ini berkembang dari zaman ke zaman, masing-masing menyesuaikan dengan suku, bangsa dan adatnya.
Di Indonesia misalnya, ntah ini di anut semua suku di Indonesia atau bagaimana penulis juga belum pernah meneliti lebih dalam. Tapi yang terjadi pada umumnya orang Indonesia, momen pernikahan justru identik dengan menghamburkan uang. Bahkan untuk mengabadikan sebuah momen pernikahan berakhir dengan meninggalkan hutang, menjual rumah, sawah dan lading. Pernikahan dan walimatul ‘ursy dijadikan sebagai ajang menunjukkan sebuah status social dan ajang bisnis yang sekali lagi tidak pernah tertuliskan.
Kita kebanyakan melupakan esensi sejatinya sebuah pernikahan. Pernikahan adalah sebuah janji agung kita pada manusia dan kepada Tuhan, bahwa kita akan menunaikan sebagian perintahnya, meleburkan dua pribadi yang berbeda dalam sebuah bingkai jalinan yang suci. Dalam sebuah pernikahan itu, kelak kita akan terus disuguhkan dengan teka-teki yang tidak pernah ditemui saat masa penjajakan, disuguhkan dengan praktek-praktek yang terkadang tidak berkesesuaian dengan teori yang didapat dari buku. Kita dituntut menjadi pembelajar yang baik jika kita menghendaki rumah tangga yang langgeng lagi utuh.
Mungkin inilah, mengapa Allah mengatakan bahwa menikah sama saja memenuhi setengah dari agama Allah. Karena dalam didalamnya, kita akan terus melewati fase-fase kehidupan secara nyata. Tentu kita tidak pernah membayangkan sebuah perceraian saat akad itu berlangsung, tapi pada kenyataannya? Banyak rumah tangga yang seumur jangung akhirnya terputus di meja hijau, bahkan ada juga rumah tangga yang telah digeluti puluhan tahun berujung dengan perceraian dengan alas an ‘Kita berseberangan’.
Dibutuhkan kesabaran kelas tinggi, komunikasi yang berkesinambungan dan kecerdasan emosional bagi pelakunya agar kelak berakhir dengan happy anding.
**
Ya Allah ya Tuhanku.. Di bulan yang banyak orang melangsungkan pernikahan, ku meyakini, bahwa ketika prosesi akad itu berlangsung, ribuan malaikatmu turun ke bumi dan mendoakan keberkahan bagi tiap-tiap mempelai. Ku bermunajat pada-Mu, berikan aku jodoh yang solih, jodoh kelak dia bias menjadi teman dan sahabat dalam hidupku, jodoh yang merupakan patahan sayapku (jika kami dekat maka kami saling mengasihi, menghormati, menghargai hingga kebahagian yang terus kami rasakan saat bersama, jika jauh, kami saling mendoakan, menjaga kesucian masing-masing diri dan saling merindui satu dengan lainnya), jodoh inilah yang nantinya akan menyelamatkan kehidupan dunia dan akhiratku, jodoh inilah yang nantinya menghantarkanku pada sebuah kebahagian kala susah dan senang hingga dunia-akhirat.
Dibutuhkan kesabaran kelas tinggi, komunikasi yang berkesinambungan dan kecerdasan emosional bagi pelakunya agar kelak berakhir dengan happy anding.
Sunday, November 28, 2010
Peristiwa Berdarah Mesuji: Sedikit Saja Gunakan Akal Manusia
Peristiwa yang sangat tidak bisa diterima akal sehat saya. Perang antar desa hanya gara-gara seekor ayam.
Kamis (25-12) saya mendapatkan informasi dari Jon, teman pers dari Kompas. Melalui pesan singkatnya dia mengatakan "Bentrok warga di Desa Simpang Pematang, sudah 3 orang yang tewas"... Saya masih kurang mendapatkan informasinya, tapi seketika itu juga saya menilai informasi ini sungguh menarik untuk ditindaklanjuti. Diskusi lewat sms-pun terjadi antara saya dan Jon. Intinya, dengan atau tanpa teman dan fasilitas kendaraan yang memadai, Jon akan tetap melakukan tinjauan keesokan harinya.
Di akhir pesannya dia mengatakan "Gua punyanya cuma motor ne, jadi inilah yang bisa menghantarkan gua ke sana, besok. Coba lo tanya anak-anak TV siapa tahu mereka bisa bawa mobil ke sana,"..Berkoresponden dengan Oki (sumber pertama) pun aku lakukan, dia mengabarkan perkembangan demi perkembangan setelah kejadikan memilukan itu.
Perang alasan pun terjadi dalam benakku. Sungguh ku ingin berada di sana. Ku ingat Jumat sore jadwalku mengisi BBQ juga Ujian Tengah Semester (UTS). Ingin rasanya ku tinggalkan semua urusan pribadi itu, tapi bagaimana caranya biarku bisa sampai ke sana, tanpa sebegitu lelah karena perjalanan jauh. Aku cukup bisa mengukur diri, bahwa sebenarnya fisikku tidak punya ketahanan yang baik. Aku tidak mau sesampaiku di sana, justru tidak ada berita yang bisa ku laporkan ke pendengar, hanya karena aku sendiri kewalahan mengurusi fisik ini.
***
Waktu telah menujukkan pukul 11.00, terus pantau perkembangan baik dari televisi maupun dari institusi yang berwenang meleraikan pertikaian itu.. Bapak Kapolda dan Bapak Direskrim Lampung saat ku hubungi tengah dalam perjalanan menuju lokasi. Sementara, Jon, telah terlebih dahulu sampai dan mengabarkan pasca konflik suasana Kampung Simpang Pematang mencekam.
***
Peristiwa bentrok antar warga di Kampung Wirabangun, Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji disebabkan karena salah satu warga Simpang Pematang Panggang bernama Hasan bersama rekan lainnya hendak mencuri ayam, tidak langsung mencuri, terlebih dahulu Hasan mengikuti ajang sambung ayam. Ketahuan gelagat ingin mencuri, Hasan pun akhirnya dihakimi masa yang ada di lokasi saat itu. Tak lama kemudian, warga Simpangpematang Panggang berbondong-bondong berdatangan dengan jumlah masa yang tak kalah banyaknya. Masa membawa senjata tajam serta membabi buta setiap warga yang mereka lihat di lokasi.
Dampak dari peristiwa itu, 4 orang tewas, 2 rumah terbakar dan puluhan korban lainnya luka-luka parah. Dan, sampai tulisan ini saya terbitkan, suasana masih mencekam 70 persen warga masih enggan kembali ketempat tinggalnya. Mereka masih khawatir, jika peristiwa itu kembali terulang. Kampung Rawabangun sunyi senyap, seperti mati dari kehidupan, aktifitas ekonomi terhenti. Sejumlah kepolisian masih terus melakukan pengamanan desa dan upaya perdamaian pun terus dibangun demi kebaikan bersama.
***
Peristiwa seperti ini bukan hal baru, beberapa kali perang antar warga di seantora nusantara terus terjadi. Pemicunya kerap dengan hal-hal yang sederhana. Ntah itu gara-gara ayam, ponsel atau penyebab lainnya. Emosi orang Indonesia paling mudah tersulut pada hal-hal yang kecil dan remeh-temeh, tapi mengecilkan hal yang besar. Mungkin inilah salah satu faktor yang membuat Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara berkembang lainnya.
Kita yang berkonflik ataupun kita yang berada diluar ranah itu, coba tengok ayam yang menyebabkan perseteruan itu, masihkah ayam itu ada dikandang? Perhatikan lagi, apakah ayam itu dengan asyiknya terus mematuk-matuk pakan pemberian tuannya bersama betinanya atau rekan ayam lainnya tanpa beban? Sekali lagi ayam tetaplah binatang yang menjalankan kehidupannya berdasarkan insting. Kala dia lapar, maka dia akan mencari makan, kala musim kawin maka dia akan memburu betina dan seterusnya. Begitulah kehidupan binatang pada umumnya, wajar berprilaku seperti itu karena binatang, beda dengan manusia yang dilengkapi dengan akal dalam penciptaannya.
Andaikan ayam yang dipeributkan itu dibekali akanl, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak seraya berkata "Lihat anak manusia itu, mereka bertikai karena saya..Padahal saya ini andaikan mereka potong lalu di masak, pastilah akan mengenyangkan rasa lapar mereka, tapi kali ini mereka bertikai karena saya. Betapa hebatnya saya ini. Ha..ha..ha..ha..ha.."
Dalam sebuah pertikaian yang kalah jadi abu dan yang menang jadi arang..Semua tersulut oleh amarah yang berkobar-kobar..Sungguh tidak akan jadi apa-apa. Justru hanya bisa melumpuhkan akal sehat saja.
Wahai saudaraku yang bertikai, dimanapun kalian berada! Lakukan apa yang semestinya anak manusia lakukan. Renungkan apa yang telah kalian lakukan! Lihat apa dampak dari yang kalian lakukan! Nyawa melayang, rumah terbakar dan kini aktifitas yang mendukung merut kalian terpaksa terhentikan karena ulah kalian. Apa yang patut dibanggakan dari semua ini? Sudah waktunyanya gunakan sedikit saja akal sehat kalian, duduk bersama untuk menyelesaikan konflik yang tak penting ini, apapun alasannya. Dan terakhir, jangan pernah mengulangi perbuatan bodoh yang tak bertanggungjawab ini.
Tuesday, November 23, 2010
Kotornya Pikiran ini
Betul kata orang, air tergenang biasanya menimbulkan penyakit disertai aroma tak sedap dan semua itu menimbulkan keresahan ekosistem disekitarnya. Ikan-ikan dan tanaman akan mati serta tidak ada satu makhluk bersihpun yang mau menghinggap, yang ada makhluk-makhluk yang tidak disukai manusia yang akan hidup dan berkembang biak didalamnya atau disekitarnya.
Demikian pula dengan manusia. Jika segala potensi yang dimilikinya tidak bergerak sebagaimana mestinya, maka potensi itu akan tumpul dan bukan hal yang mustahil dia akan jadi penonton serta banyak mengkritisi setiap sepak terjang orang lain. Dia akan menjadi pengamat yang ulung. Sudah sunnatullahnya, orang-orang yang berada dalam barisan ini tidak disukai dengan orang sekitarnya, karena dia menimbulkan keresahan bagi banyak orang.
Efek yang timbul bagi adalah sakit jasmani dan rohani. Menurut ilmu kesehatan, fungsi organ jika tidak digunakan sebagaimana mestinya dapat menimbulkan penyakit. Dan patut digarisbawahi bahwa, penyakit itu tidak datang tanpa ada sebab, dan penyakit yang menghinggap pada makhluk merupakan akumulasi kebiasaan buruk yang kerap dikerjakan oleh pelakunya.
Demikian pula penyakit rohani, penyakit rohani ini juga terbentuk dan mengarat dalam hati manusia karena ada sebuah kebiasaan buruk terus dilakukan, dipupuk dan dipelihara yang lama-kelamaan menjadi karakter pribadi individu yang bersangkutan. Setiap manusia ada sisi baik dan buruknya, namun jika sisi buruk lebih dominan dan menghiasi kepribadian kita, maka jangan harap orang lain akan mendekat dan merasa nyaman berada disamping kita (Na'udzubillahi mindzalik).
**
Sejujurnya ku katakan, bahwa sebenarnya ada sebuah pemikiran buruk sangka yang menggelayuti pikiran dan hati ini. Teori di atas benar, belakangan ku kurang memanfaatkan bakat yang semestinya terus diasah agar ia tetap tajam, Sehingganya, pribadi pengamat, merasa benar sendiri, buruk sangka disadari mulai menghinggap pada diri ini.
Terkadang ku mulai perhatikan kehidupan para teman-teman yang menurutku kehidupannya lurus-lurus saja. Secara tampilan mereka tanpan dan cantik, karier terus menanjak diikuti dengan financial yang mapan, baik dalam berorganisasi, kemudian mereka menikah dengan orang-orang yang menurutku sungguh mereka disandingkan dengan orang-orang yang tepat pada waktu yang tepat pula, lalu kehidupan mereka bahagia bersama buah hati yang dititipkan Allah pada mereka.
Ya Allah, begini ya rupanya kalau cara pandang kita tidak seimbang dalam memandang kehidupan ini. Semuanya dipenuhi perasaan ketakutan dan was-was, hingganya sulit bagi kita untuk berfikir positif dan terbuka. Kita merasa diri ini serba kekurangan sementara orang lain sepertinya tidak sulit untuk menggapai sebuah angan menjadi nyata.
Ya Allah, betapa kotornya hati ini,,jika ternyata memang demikian yang tersembuyi dalam hati. Betapa sesungguhnya hati ini berpenyakit, ku terus dilenakan dengan prasangka-prasangka, ku terus merasa pemikiran inilah yang paling benar, ku merasa diri ini sudah sebegitu terbuka sementara orang lain masih berfikiran sempit dalam memandang hidup. Jadi teringat akan pesan sahabat "Jika kamu ingin tahu bagaimana dirimu sebenarnya maka tanyakan pada orang sekitarmu, karena mereka cerminan nyata dirimu,"... Satu lagi, menurutnya aku picik, labil, tidak fair dan mengabaikan kebaikan-kebaikan orang lain.
Hmmm... Kata-katamu selalu tersimpan dengan baik sobat, sampai kapanpun akan selalu teringat. Sama sekali ku tak membantahkan predikat-predikat yang kau berikan padaku, semua itu ku jadikan cambuk dalam hidupku. Semua yang dikatakan benar, namun tak semuanya benar.
Terlepas dari cerita yang sempat terlintas dalam pemikiran ini, pemikiran kotor, justru akan menimbulkan keluh-kesah pada Sang Pencipta. Dan keluh kesah, akan mengabaikan nikmat Allah lainnya yang telah kita dapatkan. Kita selalu disibukkan dengan hal-hal yang tidak kita miliki dan mengabaikan yang telah kita miliki. Kita lupa bahwa sebenarnya masih banyak orang yang tidak bernasib sebaik kita, dan kita lupa pula bahwa dunia ini terus bergerak, jika kita tak ikut pergerakaannya maka kita akan tergerus olehnya.
Kembali ku ingatkan pada diriku sendiri, bahwa setiap manusia sejak ditiupkan ruh dalam janin anak manusia, mulai saat itu juga sudah ditetapkan jodoh, rizki dan maut pada jiwa tersebut (itu janji Allah pasti). Lantas, mengapa harus memikirkan nikmat orang lain? Kemudian, Perlu juga ku mengingatnya, bahwa Allah itu maha penyayang, pada semua ciptaaNya baik yang beriman ataupun tidak beriman padaNya. Dia akan memberi bagi orang yang bersungguh-sungguh. Lantas, mengapa tak kau kejar semua itu? Allah berlepas tangan pada pilihan hidup manusia. Lantas, mengapa tidak kau pilih yang terbaik dalam hidupmu.
Rasanya terbantah semua pemikiran kotor ini..Astagfirullah hal 'azim.. Nimat Tuhanmu yang mana telah kau dustakan? Duhai Allah,, Maafkan kejahilan ini. Ampunkan segala dosaku dan terimalah sedikit amal kebajikan yang pernah ku buat dalam hidupku, jadikan ia penyelamat pada masa perhitunganMu.
Sunday, November 21, 2010
Lindungi Hak TKI
Kasus Sumiati pembantu rumah tangga di siksa oleh majikannya bukanlah kasus baru yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Setiap ada kasus penganiyayan, pemerintah Indonesia selalu berang, muka memerah, hidung menghendus-hendus dan telinga memanas (seperti siluman kerbau yang sedang marah). Buru-buru pemerintah dengan segala kekuasaannya mensomasi pemerintahan negara lain yang warga negaranya melakukan tindakan tidak manusiawi terhadap TKI.
Sering kita mendengar dan melihat pemberitaan tidak wajar ini di media nasional, selalu begitu terus kebijakan pemberintah. Menarik TKI yang dipekerjakan di negara tersebut, membuka-buka Memorandum Understanding (MoU) dan seterusnya. Intinya, pemerintah Indonesia tidak terima dengan perlakuan salah satu warga yang mendapat bantuan tenaga pembantu rumah tangga dari Indonesia.
Kasus terakhir penganiyayan TKI bernama Sumiati asal Nusa Tenggara Barat yang di potong bibirnya oleh majikannya di Arab Saudi. Sungguh, prilaku yang sangat keji. Dan Kami warga Indonesia menyatakan mengutuk tindakan itu dan meminta pemerintah Arab Saudi bertindak tegas atas prilaku warganya yang tidak berprikemanusiaan.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa tenaga kerja kita selalu diperlakukan demikian? Memang tidak semua TKI mendapat perlakuan sama seperti Sumiati. Tapi coba kita tilik ke belakang, selama kurun waktu 10 tahun, Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono atau pemerintahan sebelumnya, sudah berapa tenaga kita di aniyaya warga asing? Terus, adakah langkah konkrit Pemerintah Indonsia yang dapat berdampak pada efek jera pada pelakunya?
Selama ini yang kita ketahui, pemerintah bertindak secepat kilat menyambar begitu mendapat berita buruk itu. Namun disayangkan, tindakan-tindakan pemerintah Indonesia hanya berdampak taubat sambal. Hari ini sang majikan kapok tidak ingin bertindak seperti binatang, tapi pada waktu yang akan datang, majikan-majikan bengis itu berulah lagi. Dan korbannya selalu tenaga kerja asal Indonesia. Apa salah tenaga kita selalu disiksa dan dianiyaya..
Saya jadi teringat pertemuan dengan seorang TKI di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta lebaran Idul Fitri lalu, dia TKI yang bekerja di Saudi Arabia. Saya sendiri tidak ingat namanya, yang saya ingat, dia berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat juga. Selama dalam masa tunggu penerbangan, perempuan berputra 3 ini banyak bercerita tentang pengalamannya selama 3 tahun menjadi TKI. Dia termasuk TKI yang beruntung, karena majikannya memperlakukannya dengan baik. Ada juga beberapa rekannya yang diperlakukan tidak menyenangkan dan harus kembali ke Indonesia dengan kekecewaan dan cucuran air mata.
Ada satu alasan yang menurut saya cukup menjadi catatan serius bagi pemerintahan kita. Mereka bekerja ke luar negeri motivasinya satu. Ingin keluar dari kemiskinan, dengan pertimbangan di luar negeri bekerja sebagai pembantu rumah tangga, bisa dihargai mencapai 2juta-2,5 juta, sementara di Indonesia, gaji tertinggi untuk seorang pembantu rumah tangga pada umumnya sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu. Sungguh pemikiran yang sangat logis. Apalagi motivasinya ingin segera keluar dari kemiskinan. Dalam hitungan 3-5 tahun TKI bisa mengumpulkan modal ratusan juta.
Dan berdasarkan catatan Metro TV, TKI asal NTB sebanyak 4000 orang dan 400 diantaranya bekerja di Saudi Arabia. Itu baru satu provinsi bagaimana dengan catatan secara nasional? Bayangkan, andaikan warga negara Indonesia yang secara ekonomi kehidupannya dibawah standar, menjadi TKI, mereka pikir adalah sebuah solusi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Artinya pemerintah telah gagal memberi penghidupan yang laik bagi rakyatnya.
Masih melanjutkan cerita seorang TKI asal Bima, saat dia dan sejumlah temannya sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dengan sangat jujur ia mengeluhkan prilaku para calo yang berjaga-jaga di pintu masuk terminal. Tarik menarik barang bawaan dan adu otot dengan para calo adalah pemandangan yang menarik untuk di pantau. Dilihat tampangnya lugu saja, maka TKI itu jadi sasaran empuk pagi para calo. Inilah potret nyata, bahwa orang Indonesia juga tidak menghargai orangnya sendiri.
Adakah pemerintah melakukan penertiban di terminal Internasional itu? Ternyata tidak juga.
TKI yang berjuang di luar negeri demi sebuah kehidupan yang laik adalah upaya yang semestinya patut dihargai oleh pemerintah. Dengan keputusan mereka menjadi TKI artinya, masyarakat telah mengurangi beban pemerintah. Pemerintah adalah sebuah lembaga yang sakral. Orang-orang didalamnya punya hak penuh terhadap regulasi yang mengatur hajat hidup orang banyak secara tegas dan bijaksana. Apa susahnya bagi pemerintah menjaga dan melindungi hak-hak TKI?
Tentu kita berharap, kasus Sumiati adalah kasus terakhir yang mewarnai per-TKI-an, kita tidak ingin ada TKI lain yang bernasib sama seperti Sumiati. Semua itu, bukan hal yang sulit buat pemerintah, hanya dengan satu catatan, bersikap tegas dan disiplin. Selama sikap itu masih tersimpan dalam pemikiran saja, tanpa ada sebuah aplikasi nyata, maka yakinlah, mimpi buruk itu selalu hadir dalam kehidupan para TKI.
Sering kita mendengar dan melihat pemberitaan tidak wajar ini di media nasional, selalu begitu terus kebijakan pemberintah. Menarik TKI yang dipekerjakan di negara tersebut, membuka-buka Memorandum Understanding (MoU) dan seterusnya. Intinya, pemerintah Indonesia tidak terima dengan perlakuan salah satu warga yang mendapat bantuan tenaga pembantu rumah tangga dari Indonesia.
Kasus terakhir penganiyayan TKI bernama Sumiati asal Nusa Tenggara Barat yang di potong bibirnya oleh majikannya di Arab Saudi. Sungguh, prilaku yang sangat keji. Dan Kami warga Indonesia menyatakan mengutuk tindakan itu dan meminta pemerintah Arab Saudi bertindak tegas atas prilaku warganya yang tidak berprikemanusiaan.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa tenaga kerja kita selalu diperlakukan demikian? Memang tidak semua TKI mendapat perlakuan sama seperti Sumiati. Tapi coba kita tilik ke belakang, selama kurun waktu 10 tahun, Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono atau pemerintahan sebelumnya, sudah berapa tenaga kita di aniyaya warga asing? Terus, adakah langkah konkrit Pemerintah Indonsia yang dapat berdampak pada efek jera pada pelakunya?
Selama ini yang kita ketahui, pemerintah bertindak secepat kilat menyambar begitu mendapat berita buruk itu. Namun disayangkan, tindakan-tindakan pemerintah Indonesia hanya berdampak taubat sambal. Hari ini sang majikan kapok tidak ingin bertindak seperti binatang, tapi pada waktu yang akan datang, majikan-majikan bengis itu berulah lagi. Dan korbannya selalu tenaga kerja asal Indonesia. Apa salah tenaga kita selalu disiksa dan dianiyaya..
Saya jadi teringat pertemuan dengan seorang TKI di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta lebaran Idul Fitri lalu, dia TKI yang bekerja di Saudi Arabia. Saya sendiri tidak ingat namanya, yang saya ingat, dia berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat juga. Selama dalam masa tunggu penerbangan, perempuan berputra 3 ini banyak bercerita tentang pengalamannya selama 3 tahun menjadi TKI. Dia termasuk TKI yang beruntung, karena majikannya memperlakukannya dengan baik. Ada juga beberapa rekannya yang diperlakukan tidak menyenangkan dan harus kembali ke Indonesia dengan kekecewaan dan cucuran air mata.
Ada satu alasan yang menurut saya cukup menjadi catatan serius bagi pemerintahan kita. Mereka bekerja ke luar negeri motivasinya satu. Ingin keluar dari kemiskinan, dengan pertimbangan di luar negeri bekerja sebagai pembantu rumah tangga, bisa dihargai mencapai 2juta-2,5 juta, sementara di Indonesia, gaji tertinggi untuk seorang pembantu rumah tangga pada umumnya sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu. Sungguh pemikiran yang sangat logis. Apalagi motivasinya ingin segera keluar dari kemiskinan. Dalam hitungan 3-5 tahun TKI bisa mengumpulkan modal ratusan juta.
Dan berdasarkan catatan Metro TV, TKI asal NTB sebanyak 4000 orang dan 400 diantaranya bekerja di Saudi Arabia. Itu baru satu provinsi bagaimana dengan catatan secara nasional? Bayangkan, andaikan warga negara Indonesia yang secara ekonomi kehidupannya dibawah standar, menjadi TKI, mereka pikir adalah sebuah solusi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Artinya pemerintah telah gagal memberi penghidupan yang laik bagi rakyatnya.
Masih melanjutkan cerita seorang TKI asal Bima, saat dia dan sejumlah temannya sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dengan sangat jujur ia mengeluhkan prilaku para calo yang berjaga-jaga di pintu masuk terminal. Tarik menarik barang bawaan dan adu otot dengan para calo adalah pemandangan yang menarik untuk di pantau. Dilihat tampangnya lugu saja, maka TKI itu jadi sasaran empuk pagi para calo. Inilah potret nyata, bahwa orang Indonesia juga tidak menghargai orangnya sendiri.
Adakah pemerintah melakukan penertiban di terminal Internasional itu? Ternyata tidak juga.
TKI yang berjuang di luar negeri demi sebuah kehidupan yang laik adalah upaya yang semestinya patut dihargai oleh pemerintah. Dengan keputusan mereka menjadi TKI artinya, masyarakat telah mengurangi beban pemerintah. Pemerintah adalah sebuah lembaga yang sakral. Orang-orang didalamnya punya hak penuh terhadap regulasi yang mengatur hajat hidup orang banyak secara tegas dan bijaksana. Apa susahnya bagi pemerintah menjaga dan melindungi hak-hak TKI?
Tentu kita berharap, kasus Sumiati adalah kasus terakhir yang mewarnai per-TKI-an, kita tidak ingin ada TKI lain yang bernasib sama seperti Sumiati. Semua itu, bukan hal yang sulit buat pemerintah, hanya dengan satu catatan, bersikap tegas dan disiplin. Selama sikap itu masih tersimpan dalam pemikiran saja, tanpa ada sebuah aplikasi nyata, maka yakinlah, mimpi buruk itu selalu hadir dalam kehidupan para TKI.
Thursday, November 11, 2010
Hikmah Bertemu si Tukang Bambu
Selasa (10 November 2010), sebetulnya saya ingin menceritakan kisah ini pada hari itu juga, namun setumpuk kepentingan kampus menuntutku untuk all out di sana. Akhirnya baru hari ini ku mampu menuangkan cerita itu salam lembaran-lembaran yang saya sendiri tidak mengetahui apakah akan dibaca banyak orang atau tidak.
Yah, di Selasa pagi, sekitar pukul 10.00 Wib saat ku keluar rumah, sepintas di Jalan Flamboyan ku melihat seorang penjual bambu yang tengah beristirahat dari aktifitas menjajakan setumpuk bambu. Nampak dalam penglihatanku laki-laki ini meneguk minuman yang terbungkus dalam kresek hitam, sesekali ia mengipasi wajahnya yang penuh keringat dengan topi hitam miliknya.
Motor Kirana yang selalu menghantarkanku beraktifitas balik arah menuju peristirahatan penjual bambu itu. Ku perhatikan ikatan bambu itu masih erat sekali, seperti belum pernah terbuka dari ikatan awalnya. diperkirakan ada sekitar 20 bambu yang bapak paruh baya ini pikul.
"Berapa harga bambunya pak?" tanyaku,
"10 ribu neng.." jawabnya sambil buru-buru ia memakai topi hitamnya.
"Bapak jalan dari mana?" kembali tanyaku
"Saya jalan dari Batu Putuh, Teluk Betung"
"Sudah laku berapa bambunya?"
"Belum ada yang laku neng"...
Sambil terus mendengarkan penjelasan dari tukang bambu itu, ku mengeluarkan dompet coklat..Dompet yang sudah bertahun-tahun belum pernah tergantikan.Yah seingatku, dompet ini pemberian dari Ci' Ami sewaktu ia berangkat ke Jogja. Seingatku, seumur hidup baru 3 kali ganti dompet dan dompet-dompet yang ku miliki pemberian orang lain. he3x..
Ku keluarkan uang Rp50 ribu dari dompet panjang coklat itu.."Pak tolong diterima ya, mudah-mudahan ada manfaatnya," Begitu kataku, sambil menyodorkan uang itu kepadanya. Sungguh di luar dugaanku, bapak ini sama sekali tidak mau menerima pemberianku. "Gak neng terima kasih," begitu katanya..Terus ku memaksa agar bapak ini mau menerima pemberianku, tapi semakin kenceng pula bapak ini menolaknya. Hingga akhirnya ku coba membeli 1 buah bambu tapi ku minta di antar ke rumahku. "Kalau begitu saya beli satu bambunya ya pak, tolong ini diterima uangnya" kataku.. Bapak ini tetap bersikeras tidak mau. "Tidak ada kembaliannya," jawabnya.. "Ya sudah bapak ambil semua kembaliannya," tegasku...Tetap bapak berambut keriting ini tidak mau menerimanya.
Akhirnya, ia membelakangiku dan membiarkan ku terus berbicara sambil menyodorkan uang..Aku pun terdiam sejenak dan mematikan mesin motor yang terus hidup. Rupanya ku menyerah dengan sikap diamnya. "Ya sudah pak,,saya hanya bisa berdoa semoga hari ini bambu yang bapak bawa laku terjual semua,"... tetap tidak mengubah posisnya, namun sayup-sayup terdengar dia mengamini perkataanku. Dan akhirnya, aku pun balik arah dan pergi darinya.
**
Sepanjang jalan ku bertasbih.. Subhanallah walhamdulillah walaa ila hailallah Allahu Akbar...Hikmah apa yang ingin kau sampaikan padaku ya Allah..Mengapa ku dipertemukan orang seperti dia? Orang dengan segala keterbatasan, namun tidak mau menerima pemberian dari orang lain secara cuma-cuma.
Ya Allah ternyata aku tak sehebat orang ini...Aku yang masih muda, sehat, dibekali akal tapi senang menerima pemberian orang dengan cuma-cuma. Terima kasih ya Allah, kau telah ingatkan aku dengan penuh kelembutan melalui si penjual bambu ini...Ku yakin, ini bukan peristiwa kebetulan saja, melainkan sudah ada skenarioMu untukku menjadi manusia yang mensyukuri nikmat-Mu.
Yah, di Selasa pagi, sekitar pukul 10.00 Wib saat ku keluar rumah, sepintas di Jalan Flamboyan ku melihat seorang penjual bambu yang tengah beristirahat dari aktifitas menjajakan setumpuk bambu. Nampak dalam penglihatanku laki-laki ini meneguk minuman yang terbungkus dalam kresek hitam, sesekali ia mengipasi wajahnya yang penuh keringat dengan topi hitam miliknya.
Motor Kirana yang selalu menghantarkanku beraktifitas balik arah menuju peristirahatan penjual bambu itu. Ku perhatikan ikatan bambu itu masih erat sekali, seperti belum pernah terbuka dari ikatan awalnya. diperkirakan ada sekitar 20 bambu yang bapak paruh baya ini pikul.
"Berapa harga bambunya pak?" tanyaku,
"10 ribu neng.." jawabnya sambil buru-buru ia memakai topi hitamnya.
"Bapak jalan dari mana?" kembali tanyaku
"Saya jalan dari Batu Putuh, Teluk Betung"
"Sudah laku berapa bambunya?"
"Belum ada yang laku neng"...
Sambil terus mendengarkan penjelasan dari tukang bambu itu, ku mengeluarkan dompet coklat..Dompet yang sudah bertahun-tahun belum pernah tergantikan.Yah seingatku, dompet ini pemberian dari Ci' Ami sewaktu ia berangkat ke Jogja. Seingatku, seumur hidup baru 3 kali ganti dompet dan dompet-dompet yang ku miliki pemberian orang lain. he3x..
Ku keluarkan uang Rp50 ribu dari dompet panjang coklat itu.."Pak tolong diterima ya, mudah-mudahan ada manfaatnya," Begitu kataku, sambil menyodorkan uang itu kepadanya. Sungguh di luar dugaanku, bapak ini sama sekali tidak mau menerima pemberianku. "Gak neng terima kasih," begitu katanya..Terus ku memaksa agar bapak ini mau menerima pemberianku, tapi semakin kenceng pula bapak ini menolaknya. Hingga akhirnya ku coba membeli 1 buah bambu tapi ku minta di antar ke rumahku. "Kalau begitu saya beli satu bambunya ya pak, tolong ini diterima uangnya" kataku.. Bapak ini tetap bersikeras tidak mau. "Tidak ada kembaliannya," jawabnya.. "Ya sudah bapak ambil semua kembaliannya," tegasku...Tetap bapak berambut keriting ini tidak mau menerimanya.
Akhirnya, ia membelakangiku dan membiarkan ku terus berbicara sambil menyodorkan uang..Aku pun terdiam sejenak dan mematikan mesin motor yang terus hidup. Rupanya ku menyerah dengan sikap diamnya. "Ya sudah pak,,saya hanya bisa berdoa semoga hari ini bambu yang bapak bawa laku terjual semua,"... tetap tidak mengubah posisnya, namun sayup-sayup terdengar dia mengamini perkataanku. Dan akhirnya, aku pun balik arah dan pergi darinya.
**
Sepanjang jalan ku bertasbih.. Subhanallah walhamdulillah walaa ila hailallah Allahu Akbar...Hikmah apa yang ingin kau sampaikan padaku ya Allah..Mengapa ku dipertemukan orang seperti dia? Orang dengan segala keterbatasan, namun tidak mau menerima pemberian dari orang lain secara cuma-cuma.
Ya Allah ternyata aku tak sehebat orang ini...Aku yang masih muda, sehat, dibekali akal tapi senang menerima pemberian orang dengan cuma-cuma. Terima kasih ya Allah, kau telah ingatkan aku dengan penuh kelembutan melalui si penjual bambu ini...Ku yakin, ini bukan peristiwa kebetulan saja, melainkan sudah ada skenarioMu untukku menjadi manusia yang mensyukuri nikmat-Mu.
Obama dan Perdamaian Islam-AS
Kedatangan Presiden Amerika Serikan Barack Husein Obama ke Indonesia tidak lebih dari 24 jam, namun kesan baik begitu melekat dari sosok Obama selama di Indonesia. Sikapnya tenang, pandai menempatkan diri, menghargai orang lain dan terpenting sosok Obama memang punya inter personal yang baik. Saya cukup memperhatikan bagaimana begitu memposisikan menjadi pendengar yang baik manakala Presiden Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono tengah memberikan keterangan persnya di Istana Negara. Obama memperhatikan lekat wajah SBY, mengarahkan badannya ke sumber bicara dan seolah ia mendengarkan dengan baik kata demi kata yang disampaikan SBY.
Perhatikan pula saat Obama di minta untuk bicara (setelah jamuan makan malam)! Dia memulainya dengan memuji masakan Indonesia "Terima kasih, atas hidangannya. Ada baso, nasi goreng, emping, kerupuk.. Enak sekali, I like it," Awal yang baik untuk menarik simpati orang audiens...Dan perhatikan, betapa pejabat negara bangga atas pujian Obama dan mengapresiasi Obama dengan derai tawa dan tepuk tangan.
Perhatikan pula saat Obama hendak menuju podium bertemu dengan 5ribuan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Depok. Obama melambaikan tangan ke arah audiens dengan wajah yang total. Demikian pula pembuka pidato yang lagi-lagi dimulai dengan "Assalamu'alaikum, salam sejahtera, pulang kampung neh" sembari tersenyum lebar.. Dan satu lagi kata yang terpenting yang dia ucapkan "Indonesia adalaha bagian dari diri saya"
Inilah kelebihan dari lelaki yang pernah berinteraksi dengan anak Indonesia di Jakarta beberapa tahun lalu. Obama jauh lebih santun daripada orang Indonesia sendiri. Dia tidak jaim serta total mengekpresikan diri. Obama memang pandai memikat hati jutaan warga Indonesia baik yang melihat secara langsung maupun tidak langsung. Bayangkan, tetangga sekitar rumah saya pada hari kedatangan Obama, mereka semua tak habis-habisnya memperbincangkan Suami Michelle, sampai kaum ibu di sekitar rumah saya menunda aktifitas rumahannya. Mereka terpesona dengan Obama.
**
Kedatangan Obama ke Indonesia tentu bukan hanya bernostalgia masa-masa kecilnya di Indonesia. Namun ada tujuan yang lebih penting daripada itu semua. Ada kepentingan kerjasama Bilateral Indonesia-Amerika Serikat (yang mencakup insfrastruktur, ekonomi dan pendidikan) dan yang lebih penting dari itu semua adalah, Obama ingin mempelajari karakter negara-negara Islam khususnya di Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim.
Berikut ini catatan Republika Obama bicara Islam:
Tanggal 20 Januari 2009 Washington DC, AS saat dilantik menjadi Presiden ke-44 AS "Kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati"
Tanggal 6 April 2009, Ankara, Turki "AS tidak sedang dan tidak akan berperang dengan Islam. AS ingin menjalin kerjasama yang baik dengan dunia Islam. AS akan menggulirkan program untuk merangkul dunia Islam"
Tanggal 4 Juni 2009, Kairo, Mesir "Perselisihan dan saling curiga pasca tragedi 9/11 perlu diakhiri. Islam bukan bagian dari masalah tapi bagian penting untuk mendukung perdamaian"
Tanggal 13 Februari 2010, Doha, Qatar "AS berupaya keras mendengarkan suara umat Islam dan melanjutkan dialog untuk memperbaiki ketegangan hubungan yang selama ini terjadi. Tidak mudah membangun hubungan baru AS-Islam, ini membutuhkan komitmen jangka panjang dari kedua belah pihak"
Tanggal 10 November 2010, Jakarta, Indonesia "Sudah saatnya mengakhiri saling curiga antara AS-Islam"
Begitulah pesan sisipan yang disampaikan Obama dalam kunjungan kerjanya di
sejumlah negara-negara Islam di dunia.
Wahai Obama! Perlu diketahui, bahwa Islam adalah agama yang cinta perdamaian. Ajaran Islam adalah ajaran yang tidak bisa dipisahkan antara urusan dunia dan akhirat, satu dan lainnya saling mendukung dan berkaitan.
Kaum Muslim minoritas di negaramu dan kaum muslim di sejumlah negara lain menaruh harapan besar dipundakmu. Pasti Islam sangat bersekapat bahwa kita akan berkominten untuk hidup berdampingan secara rukun dan damai. Tidak saling mencurigai asal dengan catatan jangan mengelabui Islam demi melancarkan sebuah misi yang merugikan pihak lain.
Selama Israel terus bertindak brutal dan menebar peperangan di negara-negara Islam khususnya Palestina, maka sikap dingin "saling mencurigai" akan terus berlanjut..Selama film-film yang memojokkan Islam sebagai teroris dan Amerika berperan sebagai jagoan! maka mustahil hidup berdampingan secara damai bisa berjalan sebagai mana mestinya. Semoga Obama bisa melerai perseteruan antara Islam-As.
Teruntuk saudaraku yang telah mencibir aksi-aksi ormas Islam..Mungkin inilah jawaban kenapa mereka kurang berkenan atas kunjungan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia. Mereka hanya tidak ingin pemerintah menyambut baik kedatangan orang yg mereka nilai bermuka dua. Satu sisi mereka (AS) meminta perdamaian tapi sisi lain mereka terus membuarkan Israel bertindak seenak perutnya di negara Islam..Bukankah kita sama-sama membenci wajah bermuka dua?
Dan satu hal lagi! Ormas Islam tidak pernah melupakan duka di negeri ini..Asal diketahui saja, mereka bergerak melakukan penggalangan dana. Tapi tidak dengan gembar-gembor di media, karena itu sudah sering mereka lakukan. Dan mereka jauh lebih jujur dalam menyalurkan bantuan dan sepenuh hati membantu saudaranya.(*)
Perhatikan pula saat Obama di minta untuk bicara (setelah jamuan makan malam)! Dia memulainya dengan memuji masakan Indonesia "Terima kasih, atas hidangannya. Ada baso, nasi goreng, emping, kerupuk.. Enak sekali, I like it," Awal yang baik untuk menarik simpati orang audiens...Dan perhatikan, betapa pejabat negara bangga atas pujian Obama dan mengapresiasi Obama dengan derai tawa dan tepuk tangan.
Perhatikan pula saat Obama hendak menuju podium bertemu dengan 5ribuan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Depok. Obama melambaikan tangan ke arah audiens dengan wajah yang total. Demikian pula pembuka pidato yang lagi-lagi dimulai dengan "Assalamu'alaikum, salam sejahtera, pulang kampung neh" sembari tersenyum lebar.. Dan satu lagi kata yang terpenting yang dia ucapkan "Indonesia adalaha bagian dari diri saya"
Inilah kelebihan dari lelaki yang pernah berinteraksi dengan anak Indonesia di Jakarta beberapa tahun lalu. Obama jauh lebih santun daripada orang Indonesia sendiri. Dia tidak jaim serta total mengekpresikan diri. Obama memang pandai memikat hati jutaan warga Indonesia baik yang melihat secara langsung maupun tidak langsung. Bayangkan, tetangga sekitar rumah saya pada hari kedatangan Obama, mereka semua tak habis-habisnya memperbincangkan Suami Michelle, sampai kaum ibu di sekitar rumah saya menunda aktifitas rumahannya. Mereka terpesona dengan Obama.
**
Kedatangan Obama ke Indonesia tentu bukan hanya bernostalgia masa-masa kecilnya di Indonesia. Namun ada tujuan yang lebih penting daripada itu semua. Ada kepentingan kerjasama Bilateral Indonesia-Amerika Serikat (yang mencakup insfrastruktur, ekonomi dan pendidikan) dan yang lebih penting dari itu semua adalah, Obama ingin mempelajari karakter negara-negara Islam khususnya di Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim.
Berikut ini catatan Republika Obama bicara Islam:
Tanggal 20 Januari 2009 Washington DC, AS saat dilantik menjadi Presiden ke-44 AS "Kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati"
Tanggal 6 April 2009, Ankara, Turki "AS tidak sedang dan tidak akan berperang dengan Islam. AS ingin menjalin kerjasama yang baik dengan dunia Islam. AS akan menggulirkan program untuk merangkul dunia Islam"
Tanggal 4 Juni 2009, Kairo, Mesir "Perselisihan dan saling curiga pasca tragedi 9/11 perlu diakhiri. Islam bukan bagian dari masalah tapi bagian penting untuk mendukung perdamaian"
Tanggal 13 Februari 2010, Doha, Qatar "AS berupaya keras mendengarkan suara umat Islam dan melanjutkan dialog untuk memperbaiki ketegangan hubungan yang selama ini terjadi. Tidak mudah membangun hubungan baru AS-Islam, ini membutuhkan komitmen jangka panjang dari kedua belah pihak"
Tanggal 10 November 2010, Jakarta, Indonesia "Sudah saatnya mengakhiri saling curiga antara AS-Islam"
Begitulah pesan sisipan yang disampaikan Obama dalam kunjungan kerjanya di
sejumlah negara-negara Islam di dunia.
Wahai Obama! Perlu diketahui, bahwa Islam adalah agama yang cinta perdamaian. Ajaran Islam adalah ajaran yang tidak bisa dipisahkan antara urusan dunia dan akhirat, satu dan lainnya saling mendukung dan berkaitan.
Kaum Muslim minoritas di negaramu dan kaum muslim di sejumlah negara lain menaruh harapan besar dipundakmu. Pasti Islam sangat bersekapat bahwa kita akan berkominten untuk hidup berdampingan secara rukun dan damai. Tidak saling mencurigai asal dengan catatan jangan mengelabui Islam demi melancarkan sebuah misi yang merugikan pihak lain.
Selama Israel terus bertindak brutal dan menebar peperangan di negara-negara Islam khususnya Palestina, maka sikap dingin "saling mencurigai" akan terus berlanjut..Selama film-film yang memojokkan Islam sebagai teroris dan Amerika berperan sebagai jagoan! maka mustahil hidup berdampingan secara damai bisa berjalan sebagai mana mestinya. Semoga Obama bisa melerai perseteruan antara Islam-As.
Teruntuk saudaraku yang telah mencibir aksi-aksi ormas Islam..Mungkin inilah jawaban kenapa mereka kurang berkenan atas kunjungan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia. Mereka hanya tidak ingin pemerintah menyambut baik kedatangan orang yg mereka nilai bermuka dua. Satu sisi mereka (AS) meminta perdamaian tapi sisi lain mereka terus membuarkan Israel bertindak seenak perutnya di negara Islam..Bukankah kita sama-sama membenci wajah bermuka dua?
Dan satu hal lagi! Ormas Islam tidak pernah melupakan duka di negeri ini..Asal diketahui saja, mereka bergerak melakukan penggalangan dana. Tapi tidak dengan gembar-gembor di media, karena itu sudah sering mereka lakukan. Dan mereka jauh lebih jujur dalam menyalurkan bantuan dan sepenuh hati membantu saudaranya.(*)
Monday, November 8, 2010
Bekerjalah Walau Kita Berbeda
Hari ini (Senin, 8 November 2010) Ku amati status demi status yang bertebaran di jejaring Facebook..Ku yakini status yang tertuliskan mencerminkan pribadi orang yang bersangkutan. Ada yang menulis mengalun-alun terbuai dengan perasaan hati mencari simpati, ada menuliskan perkembangan terkini adan pula yang menulis sangat remeh-temeh. Saya pribadi termasuk penulis status ketiganya..Terkadang masalah pribadi, perkembangan dunia tapi rasanya belum pernah menulis hal yang menurutku kurang penting untuk disebarkan. Prinsipku, jejaring facebook adalah wasilah untuk berbagi informasi dan berbagi ilmu.. Rasanya ku tidak pernah membiarkan diri ini menuliskan sesuatu yang sifatnya tidak penting.
Hmm,, Kita ketahui, bencana demi bencana selama kurun waktu kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono terus terjadi dimana-mana. Ingat bagaimana Tsunami di Aceh yang menelan korban ribuan nyawa, ingat gempa Jogja dan wilayah lainnya? Ingat ledakan pesawat? Ingat banjir? Bahkan masih hangat diingatan kita Banjir di Wasior, Tsunami di Mentawai, letusan gunung Merapi di Jawa Tengah hingga sekian dari penduduk di Jawa Tengah harus di evakuasi.
Di tengah duka yang menimpa Bumi Indonesia, kita kedatangan tamu agung dari Amerika Serikat. Yah, dia adalah Presiden AS Barack Husein Obama. Belum diketahui secara pasti apa sesungguhnya motivasi kunjungan ke negeri tempat ia pernah tumbuh kembang. Kedatangan beliau cukup mengundang kotroversi dari sejumlah ormas. Sebut saja Harokah Hizbuttahrir Indonesia (HTI), mereka adalah kelompok yang paling lantang menentang kedatangan Barack Obama ke Indonesia. Argumennya, kelompok ini tidak ingin negeri yang sebagian besar penduduknya adalah muslim, kedatangan tamu yang konon merupakan dalang penghancur kaum muslim se-dunia. Mereka menggelar aksi se-Nusantara atas bentuk penentangan mereka sebagai Warga Indonesia.
Aksi HTI cukup mengundang komentar yang sengit dari kelompok lainnya. Terkesan mereka antipati dengan aksi HTI bahkan menjeneralkan semua haroki untuk membenarkan pikiran negatif mereka terhadap ormas yang berpandangan syariah.
Saudaraku.. berpandangan syariah atau tidak berpandangan syariah, perlu kita ingat bahwa kita berada dalam satu wadah Negara Kesatuan Indonesia (NKRI). Kita satu nasib satu perjaungan. Berbahasa, bernegara satu yaitu Indonesia. Rasanya tidak pantas buat kita mengklaim kelompok kitalah yang paling benar. Adanya perbedaan cara pandang adalah bagian daripada sunnatullah (Rahmatan Lil Alamin), berbeda bukan untuk kita membeda-bedakan satu dengan lainnya, dari perbedaan justru menyatukan kita menjadi satu-kesatuan.
Bukankah hidup itu akan lebih berwarna dan lebih hidup jika ada perbedaan? PR bangsa ini membutuhkan pemikiran dan tenaga kita dalam penyelesainnya. Andaikan konflik yang tidak subtansial terus kita kedepankan, maka yakinlah, nasib bangsa ini tidak akan ubah dari sebelum-sebelumnya. Sungguh kita telah mengetahui, persoalan besar bangsa kita.
Saudaraku,,lihatlah ke depan, lihat saudara kita yang hari ini meraung-raung kesakitan, ketakutan dan kepedihan.. Mereka membutuhkan uluran tangan kita, mereka butuh dukungan kita secara moral dan materi..Mereka membutuhkan kerja nyata kita, mereka tidak butuh perdebatan kita. Rasanya tidak pantas ditengah kelonggaran kita seperi sekarang ini, justru kita manfaatkan dengan memperdebatkan hal yang tidak prinsip.
Biakan Obama datang dengan segala kepentingannya, biarkan HTI beraksi..Biarkan Jupe dan Depe berkonflik dengan urusan pribadinya dan biarkan kiai kondang menyelesaikan masalahnya. Segenap permasalahan yang mereka hadapi sungguh tidak ada seujung kukunya dari permasalahan bencana yang terus mengguncang Indonesia. Tahukah kita? Sungguh Allah telah menguji kesolidan kita, menguji tingkat empati kita (Apakah kita masih punya jiwa sosial yang tinggi atau sebaliknya?).
Indonesia.. negeri kita tercinta akan berhenti berguncang manakala kita penduduk yang menduduki negeri ini mau berdamai dengan diri sendiri dan orang lain serta alam sekitar..so..berhentilah menjadi komentator,karena itu tidak akan ada gunanya..Bukankah terus bekerja lebih baik daripada terus berdebat?
Mengutip sedikit perumpamaan Anis Matta: Jadi kalau diibaratkan minuman bersoda dituangkan ke dalam gelas maka kita akan melihat pemisahan antara buih dan minuman itu sendiri. Perhatikan, buih itu akan lenyap seiring waktu berjalan. Buih itulah manusia yang banyak retorikanya dan orang-orang bekerjalah yang akan tetap berada dalam becana. Sungguh kita pasti bisa putuskan posisi yang ingin kita harapkan!
Hmm,, Kita ketahui, bencana demi bencana selama kurun waktu kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono terus terjadi dimana-mana. Ingat bagaimana Tsunami di Aceh yang menelan korban ribuan nyawa, ingat gempa Jogja dan wilayah lainnya? Ingat ledakan pesawat? Ingat banjir? Bahkan masih hangat diingatan kita Banjir di Wasior, Tsunami di Mentawai, letusan gunung Merapi di Jawa Tengah hingga sekian dari penduduk di Jawa Tengah harus di evakuasi.
Di tengah duka yang menimpa Bumi Indonesia, kita kedatangan tamu agung dari Amerika Serikat. Yah, dia adalah Presiden AS Barack Husein Obama. Belum diketahui secara pasti apa sesungguhnya motivasi kunjungan ke negeri tempat ia pernah tumbuh kembang. Kedatangan beliau cukup mengundang kotroversi dari sejumlah ormas. Sebut saja Harokah Hizbuttahrir Indonesia (HTI), mereka adalah kelompok yang paling lantang menentang kedatangan Barack Obama ke Indonesia. Argumennya, kelompok ini tidak ingin negeri yang sebagian besar penduduknya adalah muslim, kedatangan tamu yang konon merupakan dalang penghancur kaum muslim se-dunia. Mereka menggelar aksi se-Nusantara atas bentuk penentangan mereka sebagai Warga Indonesia.
Aksi HTI cukup mengundang komentar yang sengit dari kelompok lainnya. Terkesan mereka antipati dengan aksi HTI bahkan menjeneralkan semua haroki untuk membenarkan pikiran negatif mereka terhadap ormas yang berpandangan syariah.
Saudaraku.. berpandangan syariah atau tidak berpandangan syariah, perlu kita ingat bahwa kita berada dalam satu wadah Negara Kesatuan Indonesia (NKRI). Kita satu nasib satu perjaungan. Berbahasa, bernegara satu yaitu Indonesia. Rasanya tidak pantas buat kita mengklaim kelompok kitalah yang paling benar. Adanya perbedaan cara pandang adalah bagian daripada sunnatullah (Rahmatan Lil Alamin), berbeda bukan untuk kita membeda-bedakan satu dengan lainnya, dari perbedaan justru menyatukan kita menjadi satu-kesatuan.
Bukankah hidup itu akan lebih berwarna dan lebih hidup jika ada perbedaan? PR bangsa ini membutuhkan pemikiran dan tenaga kita dalam penyelesainnya. Andaikan konflik yang tidak subtansial terus kita kedepankan, maka yakinlah, nasib bangsa ini tidak akan ubah dari sebelum-sebelumnya. Sungguh kita telah mengetahui, persoalan besar bangsa kita.
Saudaraku,,lihatlah ke depan, lihat saudara kita yang hari ini meraung-raung kesakitan, ketakutan dan kepedihan.. Mereka membutuhkan uluran tangan kita, mereka butuh dukungan kita secara moral dan materi..Mereka membutuhkan kerja nyata kita, mereka tidak butuh perdebatan kita. Rasanya tidak pantas ditengah kelonggaran kita seperi sekarang ini, justru kita manfaatkan dengan memperdebatkan hal yang tidak prinsip.
Biakan Obama datang dengan segala kepentingannya, biarkan HTI beraksi..Biarkan Jupe dan Depe berkonflik dengan urusan pribadinya dan biarkan kiai kondang menyelesaikan masalahnya. Segenap permasalahan yang mereka hadapi sungguh tidak ada seujung kukunya dari permasalahan bencana yang terus mengguncang Indonesia. Tahukah kita? Sungguh Allah telah menguji kesolidan kita, menguji tingkat empati kita (Apakah kita masih punya jiwa sosial yang tinggi atau sebaliknya?).
Indonesia.. negeri kita tercinta akan berhenti berguncang manakala kita penduduk yang menduduki negeri ini mau berdamai dengan diri sendiri dan orang lain serta alam sekitar..so..berhentilah menjadi komentator,karena itu tidak akan ada gunanya..Bukankah terus bekerja lebih baik daripada terus berdebat?
Mengutip sedikit perumpamaan Anis Matta: Jadi kalau diibaratkan minuman bersoda dituangkan ke dalam gelas maka kita akan melihat pemisahan antara buih dan minuman itu sendiri. Perhatikan, buih itu akan lenyap seiring waktu berjalan. Buih itulah manusia yang banyak retorikanya dan orang-orang bekerjalah yang akan tetap berada dalam becana. Sungguh kita pasti bisa putuskan posisi yang ingin kita harapkan!
Sunday, November 7, 2010
Nuril Terlahirkan, Misran Pergi
Tahun 1984 silam, di malam yang gelap gulita, penerangan listrik belum masuk ke desa Sekampung Udik, sepasang suami-istri membawa obor mendatangi bidan kampong. Seorang lelaki menggedor pintu rumah dinas Jamilah yang merupakan bidan kampong. Tok.tok.tok.. “Bu bidan, buka pintunya, istri saya mau melahirkan,” Misran suami Maimunah terus menggedor pintu rumah bidan itu.. Bidan Jamilah satu-satunya bidan yang ditugaskan di Desa Sekampung Udik kala itu. Bidan Jamilah mulai bertugas sejak tahun 1980-an, dapat dipastikan kala itu para wanita sudah terbuka dengan dunia kebidanan berkat kegencaran Jamilah dalam menyosialisasikan dunia kesehatan secara medik, hampir setiap hari bidan Jamilah yang diperbantukan sejumlah perangkat desa menyosialisasikan program yang dicanangkan oleh pemerintah. Yah, program Keluarga Berencana (KB).
Program mengatur jarak kelahiran dan membatasi jumlah anak dalam keluarga kala itu memang bergerak cukup gencar. Berbagai cara dilakukan para bidan dan dokter untuk mencerahkan pemikiran para wanita kampong Sekampung Udik. Selain diberi pengetahuan kesehatan melakukan persalinan di bidan, warga juga diberi berbagai hadiah jika mereka melakukan persalinan di bidan.
Mainah sendiri tergolong orang yang mempercayakan keselamatan bayi dan dirinya kepada bidan. Berapapun biaya persalinan, Maimunah tidak merasa keberatan membayarnya.
“Tepat tanggal 4 Maret 1984, aku melahirkan putra bungsuku, dia ku beri nama Nuril Huda yang berarti (….)”
Maimunah mempunyai enam anak. Anak pertamanya bernama Sri Handayani, kemudian Sugeng Purnama, Nurmala, Elly Humairah, Kholiq dan Nuril Huda.
Empat hari kemudian,,
Azan kumandang subuh sayup-sayup terdengar dari Musolla Albalaq, Be’ Munah terbangun dari tidurnya, dilihatnya bayi yang baru dilahirkannya empat hari lalu tertidur pulas. Be’ Munah tersenyum melihat bayi mungil yang berada disampingnya, rasa sakit melahirkan seakan lenyap ketika melihat buah hatinya.
Be’ Munah menoleh kea rah jam wekernya, waktu menunjukkan pukul 05.00 wib. Perlahan Munah menurunkan kaki dari amben biru yang terbiat dari besi. Rasa sakit setelah melahirkan bukan baru pertama itu dirasakan, Munah telah merasakan enam kali, namun rasa sakit itu tidak membuatnya jera untuk melahirkan. Perempuan manapun akan merasa bahagia dapat merasakan sakitnya melahirkan, karena rasa sakit itu adalah anugerah Tuhan dan menujukkan sejatinya seorang perempuan. Tidak ada hal yang paling membanggakan dari seorang perempuan kecuali ia telah merasakan sakitnya melahirkan.
Kedua kaki Maimunah telah turun dan tubuhnya menepi dari amben besi itu. Munah melongokkan wajahnya ke bawah, didapatinya tubuh Misran tertidur dengan posisi tangan kanan merangkul kedua matanya. Misran tertidur pulas, hingga kumandang azan yang bersautan tak didengarnya lagi.
Sayup-sayup suara lembut Maimunah membangunkan suaminya “Pak, bapak,, bangun sudah subuh,”
Misran tak mendengarkan suara seruan istrinya. Lelaki keturunan jawa itu terus tertidur. Munahpun mengulangi seruannya. “Pak,pak, tangi wes subuh,”.. Misran baru tersadar dan langsung menyaut “eh” menandakan bahwa Misran mendegar seruan istrinya, meskipun posisi merangkul mata dengan tangannya belum berubah.
Singkat cerita, pagi itu burung-burung berkicau, matahari sedikit-sedikit mulai Nampak menyinari bumi, udara dingin diperkampungan begitu begitu segar saat dihirup. Seperti biasa setelah membersihakan diri dan bayinya Munah membawa Nuril mungilnya keluar untuk mendapatkan sengatan sinar matahari pagi. Sementara Misran, mengurus ke lima anaknya yang lain dan membantu pekerjaan rumah Munah yang tidak sempat lagi tertangani pasca melahirkan.
Belakangan Misran memang jarang keluar rumah, usaha kerupuk yang dikembangkan di Pugung Raharjo 5 tahun lalu tidak lagi berkembang secara baik. Misran lebih banyak di rumah, sementara untuk memenuhi kebutuhan keluarga Misran tidak mau ambil pusing, sedikit-sedikit peralatan pruduksi krupuk ia jualnya hingga benar-benar habis tak tersisa.
Misran bingung dengan kondisi yang kian sulit. Kebutuhan keluarga terus berjalan, termasuk kebutuhan biaya sekolah. Munah sering mendapati suaminya menyendiri di sudut dapur, menyilangkan kaki dan mengepulkan asap rokok. “ehem..” Munah memecah lamunan suaminya, “Mikiri opo to pak?” Tanya Munah, yang terus mendekat kea rah suaminya. Misran terkaget dan buru-buru mematikan rokok yang belum habis dia hisab. Misran tidak langsung menjawab pertanyaan Munah, dilihatnya Munah membawa bayi, Misran pun mengalihkan pertanyaan Munah “Ay..ay.. jagoan bapak,”… Munah menyerahkan bayi itu kegendongan Misran, Misran terus bermain-main dengan bayi kecilnya. “Bapak belum jawab pertanyaan saya tadi, bapak mikirin apa?” Munah mengulangi pertanyaannya. Miran langsung terhenti dari memainkan bayi mungilnya dan wajahnya mulai menujukkan keseriusan.
“Kakak-kakak Nuril sudah besar-besar ya Nah,”
“Semakin hari, usaha yang kita rintis bersama semakin tidak menujukkan hasil yang baik,”
“Kebutuhan hidup kita terus berjalan bahkan bertambah seiring bertambahnya anak kita,”
“Tapi coba kamu lihat, kakak semakin tidak jelas saja bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga kita,”
Munah memperhatikan lekat mata suaminya, seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakan lebih serius selain permulaan kata-kata yang baru saja ia dengarkan. “Maksud bapak?” Tanya Munah dengan penasaran. “Yah, aku tidak bias hidup begini terus, mungkin sudah waktunya juga kakak mulai merencanakan hal lain untuk memenuhi semua kebutuhan kita, andaikan kamu mengizinkan, kakak mau pulang lagi ke jawa, coba mengadu nasib lagi di sana. Mungkin ada rizki untuk membiayai kamu dan anak-anak kita”…
Munah terdiam tidak berkata sedikitpun atas rencana yang telah disampaikan Misran, mata Munah mulai berkaca-kaca dan tak terasa air matapun menetes dipipinya. Yang Munah tau, suaminya sangat jarang mencabut perkataannya, meskipun tidak mendapat persetujuan, suaminya akan tetap melakukan apa yang telah menjadi rencananya. Tanpa berbicara apa-apa Munah pun beranjak dari sisi Misran, Munah berlari membantingkan tubuhnya yang masih sakit itu ke tempat tidurnya dan menumpahkan kesedihan hatinya.
Sejak pembicaraan itu, rasanya hari-hari yang dilalui Munah terasa panjang. Munah dan Misran tak saling berbicara, hanya sesekali saja dan seperlunya saja untuk menutupi didepan anak-anak mereka. Misran semakin larut dipojokan dapur dan Munah pun pikirannya terus menerawang, tak terasa air susunya tertumpah dan membasahi wajah mungil Nuril. Menyadari airu susunya tumpah, Munah terburu-buru mengelap wajah Nurul dengan waslap hangat.
Apa yang menjadi keresahan Munah terbukti, Misran mulai mengemas beberapa baju yang akan dia bawa pergi. Sungguh Munah tak menyangka akan secepat itu. Misran menghampiri Munah dalam kondisi rapi, berkaca mata samar dan mengenakan topi coklat, di sebelah kiri tangannya Munah melihat suami dihadapannya menjinjing tas pakaian. “Munah, maafkan kakak ya, kakak harus pergi, ini demi kebaikan kita semua dan yakinlah, kakak akan segera kembali lagi,”… tangisan Munah tumpah kepelukan suaminya, bayi yang berada digendongan yang baru berusia 6 hari itu pun seolah merasakan kesedihan Munah, bayi itu menangis kencang. “Maafin Munah, kak.. Munah hanya belum siap ditinggal kakak, Nuril masih sangat kecil,”…Misran menjatuhkan tas jinjingnya dan memeluk erat istrinya, sesekali dia mencium kening Munah yang jatuh dipelukannya. “Huusss,” telunjuk Misran diletakkan dipermukaan bibir Munah…”Yakin sama kakak ya, kepergian kakak tidak akan lama, kakak segera beri kabar sesampainya kakak di sana. Kakak titip anak-anak ya, jangan ceritakan pada mereka kalau kakak pergi ke jawa. Andaikan mereka bertanya tentang aku, katakan pada mereka bapak pergi ke Karang sebentar”… Tangisan Munahpun semakin pecah, sesekali Munah menangguk-anggukan kepala menandakan bahwa akhirnya Munah pun setuju dengan keputusan Misran. Perlahan Misran melepas pelukan istrinya. Misran pergi.(Bersambung)
Program mengatur jarak kelahiran dan membatasi jumlah anak dalam keluarga kala itu memang bergerak cukup gencar. Berbagai cara dilakukan para bidan dan dokter untuk mencerahkan pemikiran para wanita kampong Sekampung Udik. Selain diberi pengetahuan kesehatan melakukan persalinan di bidan, warga juga diberi berbagai hadiah jika mereka melakukan persalinan di bidan.
Mainah sendiri tergolong orang yang mempercayakan keselamatan bayi dan dirinya kepada bidan. Berapapun biaya persalinan, Maimunah tidak merasa keberatan membayarnya.
“Tepat tanggal 4 Maret 1984, aku melahirkan putra bungsuku, dia ku beri nama Nuril Huda yang berarti (….)”
Maimunah mempunyai enam anak. Anak pertamanya bernama Sri Handayani, kemudian Sugeng Purnama, Nurmala, Elly Humairah, Kholiq dan Nuril Huda.
Empat hari kemudian,,
Azan kumandang subuh sayup-sayup terdengar dari Musolla Albalaq, Be’ Munah terbangun dari tidurnya, dilihatnya bayi yang baru dilahirkannya empat hari lalu tertidur pulas. Be’ Munah tersenyum melihat bayi mungil yang berada disampingnya, rasa sakit melahirkan seakan lenyap ketika melihat buah hatinya.
Be’ Munah menoleh kea rah jam wekernya, waktu menunjukkan pukul 05.00 wib. Perlahan Munah menurunkan kaki dari amben biru yang terbiat dari besi. Rasa sakit setelah melahirkan bukan baru pertama itu dirasakan, Munah telah merasakan enam kali, namun rasa sakit itu tidak membuatnya jera untuk melahirkan. Perempuan manapun akan merasa bahagia dapat merasakan sakitnya melahirkan, karena rasa sakit itu adalah anugerah Tuhan dan menujukkan sejatinya seorang perempuan. Tidak ada hal yang paling membanggakan dari seorang perempuan kecuali ia telah merasakan sakitnya melahirkan.
Kedua kaki Maimunah telah turun dan tubuhnya menepi dari amben besi itu. Munah melongokkan wajahnya ke bawah, didapatinya tubuh Misran tertidur dengan posisi tangan kanan merangkul kedua matanya. Misran tertidur pulas, hingga kumandang azan yang bersautan tak didengarnya lagi.
Sayup-sayup suara lembut Maimunah membangunkan suaminya “Pak, bapak,, bangun sudah subuh,”
Misran tak mendengarkan suara seruan istrinya. Lelaki keturunan jawa itu terus tertidur. Munahpun mengulangi seruannya. “Pak,pak, tangi wes subuh,”.. Misran baru tersadar dan langsung menyaut “eh” menandakan bahwa Misran mendegar seruan istrinya, meskipun posisi merangkul mata dengan tangannya belum berubah.
Singkat cerita, pagi itu burung-burung berkicau, matahari sedikit-sedikit mulai Nampak menyinari bumi, udara dingin diperkampungan begitu begitu segar saat dihirup. Seperti biasa setelah membersihakan diri dan bayinya Munah membawa Nuril mungilnya keluar untuk mendapatkan sengatan sinar matahari pagi. Sementara Misran, mengurus ke lima anaknya yang lain dan membantu pekerjaan rumah Munah yang tidak sempat lagi tertangani pasca melahirkan.
Belakangan Misran memang jarang keluar rumah, usaha kerupuk yang dikembangkan di Pugung Raharjo 5 tahun lalu tidak lagi berkembang secara baik. Misran lebih banyak di rumah, sementara untuk memenuhi kebutuhan keluarga Misran tidak mau ambil pusing, sedikit-sedikit peralatan pruduksi krupuk ia jualnya hingga benar-benar habis tak tersisa.
Misran bingung dengan kondisi yang kian sulit. Kebutuhan keluarga terus berjalan, termasuk kebutuhan biaya sekolah. Munah sering mendapati suaminya menyendiri di sudut dapur, menyilangkan kaki dan mengepulkan asap rokok. “ehem..” Munah memecah lamunan suaminya, “Mikiri opo to pak?” Tanya Munah, yang terus mendekat kea rah suaminya. Misran terkaget dan buru-buru mematikan rokok yang belum habis dia hisab. Misran tidak langsung menjawab pertanyaan Munah, dilihatnya Munah membawa bayi, Misran pun mengalihkan pertanyaan Munah “Ay..ay.. jagoan bapak,”… Munah menyerahkan bayi itu kegendongan Misran, Misran terus bermain-main dengan bayi kecilnya. “Bapak belum jawab pertanyaan saya tadi, bapak mikirin apa?” Munah mengulangi pertanyaannya. Miran langsung terhenti dari memainkan bayi mungilnya dan wajahnya mulai menujukkan keseriusan.
“Kakak-kakak Nuril sudah besar-besar ya Nah,”
“Semakin hari, usaha yang kita rintis bersama semakin tidak menujukkan hasil yang baik,”
“Kebutuhan hidup kita terus berjalan bahkan bertambah seiring bertambahnya anak kita,”
“Tapi coba kamu lihat, kakak semakin tidak jelas saja bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga kita,”
Munah memperhatikan lekat mata suaminya, seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakan lebih serius selain permulaan kata-kata yang baru saja ia dengarkan. “Maksud bapak?” Tanya Munah dengan penasaran. “Yah, aku tidak bias hidup begini terus, mungkin sudah waktunya juga kakak mulai merencanakan hal lain untuk memenuhi semua kebutuhan kita, andaikan kamu mengizinkan, kakak mau pulang lagi ke jawa, coba mengadu nasib lagi di sana. Mungkin ada rizki untuk membiayai kamu dan anak-anak kita”…
Munah terdiam tidak berkata sedikitpun atas rencana yang telah disampaikan Misran, mata Munah mulai berkaca-kaca dan tak terasa air matapun menetes dipipinya. Yang Munah tau, suaminya sangat jarang mencabut perkataannya, meskipun tidak mendapat persetujuan, suaminya akan tetap melakukan apa yang telah menjadi rencananya. Tanpa berbicara apa-apa Munah pun beranjak dari sisi Misran, Munah berlari membantingkan tubuhnya yang masih sakit itu ke tempat tidurnya dan menumpahkan kesedihan hatinya.
Sejak pembicaraan itu, rasanya hari-hari yang dilalui Munah terasa panjang. Munah dan Misran tak saling berbicara, hanya sesekali saja dan seperlunya saja untuk menutupi didepan anak-anak mereka. Misran semakin larut dipojokan dapur dan Munah pun pikirannya terus menerawang, tak terasa air susunya tertumpah dan membasahi wajah mungil Nuril. Menyadari airu susunya tumpah, Munah terburu-buru mengelap wajah Nurul dengan waslap hangat.
Apa yang menjadi keresahan Munah terbukti, Misran mulai mengemas beberapa baju yang akan dia bawa pergi. Sungguh Munah tak menyangka akan secepat itu. Misran menghampiri Munah dalam kondisi rapi, berkaca mata samar dan mengenakan topi coklat, di sebelah kiri tangannya Munah melihat suami dihadapannya menjinjing tas pakaian. “Munah, maafkan kakak ya, kakak harus pergi, ini demi kebaikan kita semua dan yakinlah, kakak akan segera kembali lagi,”… tangisan Munah tumpah kepelukan suaminya, bayi yang berada digendongan yang baru berusia 6 hari itu pun seolah merasakan kesedihan Munah, bayi itu menangis kencang. “Maafin Munah, kak.. Munah hanya belum siap ditinggal kakak, Nuril masih sangat kecil,”…Misran menjatuhkan tas jinjingnya dan memeluk erat istrinya, sesekali dia mencium kening Munah yang jatuh dipelukannya. “Huusss,” telunjuk Misran diletakkan dipermukaan bibir Munah…”Yakin sama kakak ya, kepergian kakak tidak akan lama, kakak segera beri kabar sesampainya kakak di sana. Kakak titip anak-anak ya, jangan ceritakan pada mereka kalau kakak pergi ke jawa. Andaikan mereka bertanya tentang aku, katakan pada mereka bapak pergi ke Karang sebentar”… Tangisan Munahpun semakin pecah, sesekali Munah menangguk-anggukan kepala menandakan bahwa akhirnya Munah pun setuju dengan keputusan Misran. Perlahan Misran melepas pelukan istrinya. Misran pergi.(Bersambung)
Tuesday, November 2, 2010
Jangan Ganggu Anak Krakatau Bermain
Sejak tanggal 29 Oktober lalu, diperhatikan semua pemberitaan tersedot peristiwa Tsunami di Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi Jawa Tengah. Bahkan hingga kini, gunung tersebut terus mengeluarkan debu dan awan panas, sesekali mengeluarkan getaran yang membuat panik warga sekitar. Ahli vulkanik sendiri belum bisa memprediksikan sampai kapan aktivias vulkanik itu akan normal kembali.
Tsunami di Mentawai dan letusan merapi pun berefek pada pemberitaan media terfokus mengamati aktivitas semua gunung merapi di Indonesia. Satu diantara yang terus-terusan di sorot TV One adalah aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda Lampung. Bahkan TV milik Pengusaha Abu Rizal Bakrie itu memutar berkali-kali bagaimana reporternya tengah meliput aktivitas gunung tersebut. Narsisnya lagi, mereka sudah sampai di kaki Gunung Anak Krakatau. Eksklusif memang kesannya, tapi saya pikir berita atau laporan tersebut tidak akan jadi eksklusif andaikan peristiwa buruk benar-benar terjadi saat sang jurnalis tengah melakukan laporan. Na'uzubillah mindzalik.
Sementara dunia juga mengetahui, bahwa gunung anak Krakatau merupakan gunung merapi teraktif di dunia. Sekitar tahun lalu, saat melakukan kunjungan dan pantauan langsung bersama sejumlah duta besar dunia yang di fasiliasi Dinas Parawisata, Lampung, memang kalau diperhatikan anak Karakatau mengeluarkan suara gemuruh disertai keluarnya asap dan bebatuan dari mulut gunung setiap 15 menit sekali.
Lantas, apa yang aneh dari aktifitas anak gunung Krakatau itu? Justru saya pribadi melihatnya dan menilai ini adalah keindahan fenomena alam. Wajar hingga akhirnya Pemerintahan Provinsi Lampung mencanangkan anak gunung Krakatau sebagai objek wisata nasional dan mancanegara di tahun 2009, belum lagi dengan kekayaan dan keindahan lautnya di sekitar gunung tersebut.
Kalau toh pengamat mengatakan anaka Krakatau saat ini berstatus waspada, tentu makna waspada itu tidak bisa disamakan dengan waspada di sekitar merapi di Jawa Tengah. Anaka Krakatau terletak di Selat Sunda Lampung, di sana tidak ada kehidupan anak manusia. Berbeda halnya dengan merapi Jawa Tengah yang sekitarnya masih dipadati penduduk.
Media dalam hal ini sebagai perpanjangan mulut, diharapkan tidak mengembangkan isu sentitif ditengah kondisi yang keruh seperti ini. Kesannya menakut-nakuti publik. Media harus punya sikap menenangkan bukan memperkeruh keadaan dengan pemberitaan yang berlebihan.
Jadi biarkan Anak Krakatau melakukan aktifitas vulkaniknya. Dia sedang asyik bermain ditengah kesendiriannya. Kasihan dia di tinggal ibunya sejak 1883 lalu, dia membutuhkan hiburan dan begitulah cara Anak Krakatau menghibur dirinya. Sedikit saya mengambil dari berbagai sumber terkait sejarah Gunung Krakatau.
Pada tanggal 27 Agustus 1883 silam, Gunung Krakatau meletus. Menurut catatan sejarah yang hingga kini dijadikan ajang promosi pariwisata Lampung, Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat, menggemparkan dunia. semburan lahar dan abunya mencapai ketinggian 80 km. Sementara abunya mengelilingi bumi selama beberapa tahun. dilihat daru Amerika Utara dan Eropa, saat itu cahaya matahari tampak berwarna biru dan bulan tampak jingga (oranye).
Letusan gunung ini menghasilkan debu hebat yang mampu menembus jarak hingga 90 km. Letusan itu pun berdampak terjadinya gelombang laut sampai 40 m vertikal dan telah memakan korban sekitar 36.000 jiwa pada 165 desa baik di Lampung Selatan ataupun pada barat Jawa Barat. Dan karena letusannya itu telah melenyapkan Gunung Danan dan Perbuatan dari muka bumi dan menyisakan tiga pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata besar serta sebuahkaldera yang terletak di tengah ketiga pulau tersebut yang berdiameter 7 km.
Empat puluh tahun kemudian lahir keajaiban baru. Sekitar tahun 1927 para nelayan yang tengah melaut di Selat Sunda tiba-tiba terkejut. Kepulan asap hitam di permukaan laut menyembul seketika di antara tiga pulau yang ada, yaitu di kaldera bekas letusan sebelumnya yang dahsyat itu. Kemudian pada tanggal 29 desember 1929 sebuah dinding kawah muncul ke permukaan laut yang juga sebagai sumber erupsi. Hanya dua tahun setelah misteri kepulan asap di laut itu, kemudian muncullah benda aneh. "Wajah" asli benda aneh itu makin hari makin jelas dan ternyata itulah yang belakangan disebut Gunung Anak Krakatau.
Tapi misteri Gunung Anak Krakatau tidak sampai di situ. Gunung ini memiliki keunikan tersendiri, sebab gunung ini selalu menambahkan ketinggiannya sekitar satu senti tiap harinya. Gunung Anak Krakatau yang semula hanya beberapa meter saja, sekarang sudah dapat mencapai 230 mdpl dan sejak munculnya pada tahun1927. Gunung ini tercatat telah meletus sekitar 16 kali sejak Desember 1927 sampai Agustus 1930 dan 43 kali sejak 1931-1960 dan 13 kali sejak 1961-tahun 2000.
Tsunami di Mentawai dan letusan merapi pun berefek pada pemberitaan media terfokus mengamati aktivitas semua gunung merapi di Indonesia. Satu diantara yang terus-terusan di sorot TV One adalah aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda Lampung. Bahkan TV milik Pengusaha Abu Rizal Bakrie itu memutar berkali-kali bagaimana reporternya tengah meliput aktivitas gunung tersebut. Narsisnya lagi, mereka sudah sampai di kaki Gunung Anak Krakatau. Eksklusif memang kesannya, tapi saya pikir berita atau laporan tersebut tidak akan jadi eksklusif andaikan peristiwa buruk benar-benar terjadi saat sang jurnalis tengah melakukan laporan. Na'uzubillah mindzalik.
Sementara dunia juga mengetahui, bahwa gunung anak Krakatau merupakan gunung merapi teraktif di dunia. Sekitar tahun lalu, saat melakukan kunjungan dan pantauan langsung bersama sejumlah duta besar dunia yang di fasiliasi Dinas Parawisata, Lampung, memang kalau diperhatikan anak Karakatau mengeluarkan suara gemuruh disertai keluarnya asap dan bebatuan dari mulut gunung setiap 15 menit sekali.
Lantas, apa yang aneh dari aktifitas anak gunung Krakatau itu? Justru saya pribadi melihatnya dan menilai ini adalah keindahan fenomena alam. Wajar hingga akhirnya Pemerintahan Provinsi Lampung mencanangkan anak gunung Krakatau sebagai objek wisata nasional dan mancanegara di tahun 2009, belum lagi dengan kekayaan dan keindahan lautnya di sekitar gunung tersebut.
Kalau toh pengamat mengatakan anaka Krakatau saat ini berstatus waspada, tentu makna waspada itu tidak bisa disamakan dengan waspada di sekitar merapi di Jawa Tengah. Anaka Krakatau terletak di Selat Sunda Lampung, di sana tidak ada kehidupan anak manusia. Berbeda halnya dengan merapi Jawa Tengah yang sekitarnya masih dipadati penduduk.
Media dalam hal ini sebagai perpanjangan mulut, diharapkan tidak mengembangkan isu sentitif ditengah kondisi yang keruh seperti ini. Kesannya menakut-nakuti publik. Media harus punya sikap menenangkan bukan memperkeruh keadaan dengan pemberitaan yang berlebihan.
Jadi biarkan Anak Krakatau melakukan aktifitas vulkaniknya. Dia sedang asyik bermain ditengah kesendiriannya. Kasihan dia di tinggal ibunya sejak 1883 lalu, dia membutuhkan hiburan dan begitulah cara Anak Krakatau menghibur dirinya. Sedikit saya mengambil dari berbagai sumber terkait sejarah Gunung Krakatau.
Pada tanggal 27 Agustus 1883 silam, Gunung Krakatau meletus. Menurut catatan sejarah yang hingga kini dijadikan ajang promosi pariwisata Lampung, Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat, menggemparkan dunia. semburan lahar dan abunya mencapai ketinggian 80 km. Sementara abunya mengelilingi bumi selama beberapa tahun. dilihat daru Amerika Utara dan Eropa, saat itu cahaya matahari tampak berwarna biru dan bulan tampak jingga (oranye).
Letusan gunung ini menghasilkan debu hebat yang mampu menembus jarak hingga 90 km. Letusan itu pun berdampak terjadinya gelombang laut sampai 40 m vertikal dan telah memakan korban sekitar 36.000 jiwa pada 165 desa baik di Lampung Selatan ataupun pada barat Jawa Barat. Dan karena letusannya itu telah melenyapkan Gunung Danan dan Perbuatan dari muka bumi dan menyisakan tiga pulau yaitu Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Rakata besar serta sebuahkaldera yang terletak di tengah ketiga pulau tersebut yang berdiameter 7 km.
Empat puluh tahun kemudian lahir keajaiban baru. Sekitar tahun 1927 para nelayan yang tengah melaut di Selat Sunda tiba-tiba terkejut. Kepulan asap hitam di permukaan laut menyembul seketika di antara tiga pulau yang ada, yaitu di kaldera bekas letusan sebelumnya yang dahsyat itu. Kemudian pada tanggal 29 desember 1929 sebuah dinding kawah muncul ke permukaan laut yang juga sebagai sumber erupsi. Hanya dua tahun setelah misteri kepulan asap di laut itu, kemudian muncullah benda aneh. "Wajah" asli benda aneh itu makin hari makin jelas dan ternyata itulah yang belakangan disebut Gunung Anak Krakatau.
Tapi misteri Gunung Anak Krakatau tidak sampai di situ. Gunung ini memiliki keunikan tersendiri, sebab gunung ini selalu menambahkan ketinggiannya sekitar satu senti tiap harinya. Gunung Anak Krakatau yang semula hanya beberapa meter saja, sekarang sudah dapat mencapai 230 mdpl dan sejak munculnya pada tahun1927. Gunung ini tercatat telah meletus sekitar 16 kali sejak Desember 1927 sampai Agustus 1930 dan 43 kali sejak 1931-1960 dan 13 kali sejak 1961-tahun 2000.
Sunday, October 31, 2010
Maimunah dan Kampung Halamannya
Mukena tipis lagi kusam berbintik hitam dibagian kepala membaluti wajah dan tubuh perempuan tua itu. Kedua telapak tangan dan wajahnya mengenadah ke atas, matanya terpejam mulutnya berkomat-kamit. Khusuk sekali. Ntah apa yang menjadi permintaan pribadinya kepada Tuhannya. Setelah lama ia bermunajat, perempuan tua ini membanting-banting pelan tasbih sambil mengeleng-gelengkan kepala. Terdengar sayup-sayup kalimat yang mengagungkan kebesaran Tuhan. “la ila haillallah”
Selang beberapa menit, dia mengakhiri ritual penghambaannya,membuka mukena kusam itu sambil menengok ke arahku lalu melontarkan senyuman, gigi besar-besar yang tersusun rapi menghiasi senyumannya sambil bertanya padaku
“Kamu sudah makan? Bibi’e laper,” tanya perempuan tua ini kepadaku sambil melipat mukena dan sajadah.
“Sudah be’ dari tadi aku tunggui be’ Munah biar bias makan malam bareng tapi be’ Munah masih asyik berdoa,”
“Memang be’ Munah minta apa sih? tanyaku.
Be' Munah kembali melontarkan senyumannya, sambil beranjak dari tempat solat. Rambut pendek yang dipenuhi dengan uban terurai. Be' Munah Nampak lebih tua saat penutup kepalanya terlepas. Tubuhnya kurus, berdirinya tidak setegap tiang bendera di luar sana. Tubuh kurus, bungkuk lagi keriput itu menghampiri ku yang tengah menikmati makan malam yang tak jauh dari tempat solat. Sungguh Be' Munah tak mampu berjalan lebih cepat dari ibuku yang usianya 5 tahun lebih tua dari Be' Munah, kondisi itu sungguh tak sebanding dengan usianya yang baru mencapai 57 tahun.
“Minta macam-macam sama Allah, termasuk minta kelak kamu nanti dapat jodoh yang baik lagi saying sama keluarga kamu,” jawab Be' Munah.
“Be’e nda mau kamu jatuh ditangan lelaki yang tidak bertanggung jawab sama keluarga,”
…”Be’e nda mau pengalaman pahit keluarga Be’e dulu terulang kembali di keluarga anak dan keponakan Be’e,”
…”Cukuplah aku saja yang mengalami kondisi pahit hingga usiaku tua begini,” jawabnya panjang lebar, sesekali Munah tersendat suaranya, memalingkan wajahnya dariku dari rasa sedih yang tak kuasa ia bendung.
**
Oh ya, perempuan tua ini adalah bibi kandungku. Dia adalah adik perempuan satu-satunya dari almarhum ayahku. Namanya Siti Maimunah kami para keponakan kerap memanggilnya Maimunah dengan sebutan Be’ Munah. Kalau dirunut dari silsilah Be’ Munah berdarah Aceh dan Makasar, namun lahir dan besar di Bali serta menjalankan kehidupan rumah tangga di Lampung tepatnya di Desa Sekampung Udik. Pugung Raharjo.
Pugung Raharjo dikenal sebagai tempat bersejarah Zaman Purbakala. Dahulu, di masa kecilkui, sering ditemukan pernak-pernik bersejarah seperti sendok, piring, mangkuk logam atau perabot rumah tangga zaman kerajaan. Di Pugung Raharjo juga ditemukan punden berundak-undak, konon punden tersebut dahulu dipergunakan untuk melakukan ritual sembahyang raja dan pengikutnya.
Bukti lain kalau di tempat Maimunah adalah bekas peninggalan sejarah, menurut cerita warga setempat, di Taman Burbakala juga terdapat tempat pemandian putri atau permaisuri raja dan di sana juga terdapat menhi-menhil tertuliskan sansekerta, yang tersusun sejak zaman dahulu kala.
Sayang, pemerintahan Lampung kurang memperhatikan situs-situs bersejarah yang tertinggal di Bumi Sekampung Udik, Pugung Raharjo, taman tersebut tidak terawat, warga sekitar memanfaatkan lahan sekitar taman untuk berkebun. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, tempat pemandian sang putri raja itu, tidak pernah mengalami kekeringan dan kejerneihan airnya tetap terjaga, meskipun kemarau panjang dan hujan silih berganti.
Masyarakat di sana meyakini, bahwa peninggalan bersejarah itu telah dijaga oleh makhluk halus, sehingga tak satupun orang dapat mencuri atau secara sengaja merusak taman kerajaan Purbakala itu.
**
Pugung Raharjo merupakan wilayah pemekaran di era runtuhnya Soeharto, Pugung Raharjo masuk dalam wilayah Lampung Timur. Sebagian besar penduduknya ber suku Jawa, Lampung dan Bali, sisanya adalah ber suku Sunda dan Padang. Sebagian besar penduduk di sana merupakan pendatang yang terus berkembang turun-temurun. Maimunah sendiri transmigran dari Pulau Dewata pasca Gunung Agung meletus pada tahun 1963 lalu.
“Waktu aku, bapakmu, embahmu pertama menginjak Lampung kondisinya masih hutan belantara. Kondisi itu yang membuat sebagian besar transmigran pulang kembali ke daerah asalnya. Hanya orang-orang kuat saja yang pada akhirnya terus beranak-pinak di Lampung kala itu”
“Aku, keluarga bapakmu dan pamanmu termasuk golongan yang terseleksi oleh alam,” kisah anak perempuan satu-satunya keturunan pasangan Halimah-Ma’dan.
Banyak orang mengatakan bahwa Lampung merupakan miniature Indonesia. Berbagai suku di negeri ini ada di sana, meskipun mereka mementap secara turun-temurun, lahir dan besar di sana, namun pendantang itu tidak fasih berbahasa Lampung. Masing-masing mereka membawa dan menggunakan bahasa sendiri. Maimunah sendiri sama sekali tidak faham dengan bahasa Lampung meskipun ia bergaul dengan mereka. Tapi Maimunah fasih berbahasa jawa selain bahasa ibu (Bali).
Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian tani. Namun bukan petani yang bebas menggarap ladangnya sendiri, melainkan petani upahan. Berdasarkan catatan statisktik tahun 2009, Lampung Timur merupakan kabupatern termiskin di Lampung.
Menurut catatan Kepolisian Daerah Lampung, Lampung Timur merupakan daerah rawan begal dan perampokan. Sebagian besar pelaku kejahatan yang ada di Lampung berasal dari Lampung Timur. Sementara catatan Badan Nasional Penganduan dan Penanganan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Lampung Timur termasuk daerah terbesar pengirim tenaga kerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga ke luar negeri. Hingga, catatan BNP2TKI juga mengatakan, bahwa Lampung Timur memiliki pasar yang sebagian besar penghuninya adalah eks TKI, pasar ini terletak di antara Simpang Sribawono.
**
Untuk menuju Pugung Raharjo dibutuhkan waktu tempuh selama 1,5 jam idealnya, kondisi jalan yang penuh dengan gelombang dan kubangan ikan akhirnya jarak tempuh itu bias melebihi dari semestinya. Sementara kalau diperhatikan kiri-kanan jalan terdapat perusahaan besar yang terus berproduksi hingga saat ini.
Demikian dengan siswa yang menempuh pendidikan di Pugung Raharjo atau secara luas Lampung Timur, banyak guru yang tidak berani member nilai merah di raport siswa mereka, apalagi sampai memberi stempel tidak naik, maka artinya guru dihadapkan dengan sebuah golok di atas meja.
Begitulah kondisi secara menyeluruh kampong halaman Maimunah. Terbelakang dan k eras meskipun tidak jauh dari Ibukota Provinsi Lampung. Meskipun demikian, Maimunah tetap memilih Pugung Raharjo sebagai tempat tinggalnya, sebagai tempat pendidikan bagi ke enam anaknya. Sekalipun Maimunah melangla buana, Maimunah tetap terus kembali ke sana, karena di sana menyimpan sejuta pengalaman susah dan senang selama ia menjalankan roda kehidupan.(BERSAMBUNG)
Selang beberapa menit, dia mengakhiri ritual penghambaannya,membuka mukena kusam itu sambil menengok ke arahku lalu melontarkan senyuman, gigi besar-besar yang tersusun rapi menghiasi senyumannya sambil bertanya padaku
“Kamu sudah makan? Bibi’e laper,” tanya perempuan tua ini kepadaku sambil melipat mukena dan sajadah.
“Sudah be’ dari tadi aku tunggui be’ Munah biar bias makan malam bareng tapi be’ Munah masih asyik berdoa,”
“Memang be’ Munah minta apa sih? tanyaku.
Be' Munah kembali melontarkan senyumannya, sambil beranjak dari tempat solat. Rambut pendek yang dipenuhi dengan uban terurai. Be' Munah Nampak lebih tua saat penutup kepalanya terlepas. Tubuhnya kurus, berdirinya tidak setegap tiang bendera di luar sana. Tubuh kurus, bungkuk lagi keriput itu menghampiri ku yang tengah menikmati makan malam yang tak jauh dari tempat solat. Sungguh Be' Munah tak mampu berjalan lebih cepat dari ibuku yang usianya 5 tahun lebih tua dari Be' Munah, kondisi itu sungguh tak sebanding dengan usianya yang baru mencapai 57 tahun.
“Minta macam-macam sama Allah, termasuk minta kelak kamu nanti dapat jodoh yang baik lagi saying sama keluarga kamu,” jawab Be' Munah.
“Be’e nda mau kamu jatuh ditangan lelaki yang tidak bertanggung jawab sama keluarga,”
…”Be’e nda mau pengalaman pahit keluarga Be’e dulu terulang kembali di keluarga anak dan keponakan Be’e,”
…”Cukuplah aku saja yang mengalami kondisi pahit hingga usiaku tua begini,” jawabnya panjang lebar, sesekali Munah tersendat suaranya, memalingkan wajahnya dariku dari rasa sedih yang tak kuasa ia bendung.
**
Oh ya, perempuan tua ini adalah bibi kandungku. Dia adalah adik perempuan satu-satunya dari almarhum ayahku. Namanya Siti Maimunah kami para keponakan kerap memanggilnya Maimunah dengan sebutan Be’ Munah. Kalau dirunut dari silsilah Be’ Munah berdarah Aceh dan Makasar, namun lahir dan besar di Bali serta menjalankan kehidupan rumah tangga di Lampung tepatnya di Desa Sekampung Udik. Pugung Raharjo.
Pugung Raharjo dikenal sebagai tempat bersejarah Zaman Purbakala. Dahulu, di masa kecilkui, sering ditemukan pernak-pernik bersejarah seperti sendok, piring, mangkuk logam atau perabot rumah tangga zaman kerajaan. Di Pugung Raharjo juga ditemukan punden berundak-undak, konon punden tersebut dahulu dipergunakan untuk melakukan ritual sembahyang raja dan pengikutnya.
Bukti lain kalau di tempat Maimunah adalah bekas peninggalan sejarah, menurut cerita warga setempat, di Taman Burbakala juga terdapat tempat pemandian putri atau permaisuri raja dan di sana juga terdapat menhi-menhil tertuliskan sansekerta, yang tersusun sejak zaman dahulu kala.
Sayang, pemerintahan Lampung kurang memperhatikan situs-situs bersejarah yang tertinggal di Bumi Sekampung Udik, Pugung Raharjo, taman tersebut tidak terawat, warga sekitar memanfaatkan lahan sekitar taman untuk berkebun. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, tempat pemandian sang putri raja itu, tidak pernah mengalami kekeringan dan kejerneihan airnya tetap terjaga, meskipun kemarau panjang dan hujan silih berganti.
Masyarakat di sana meyakini, bahwa peninggalan bersejarah itu telah dijaga oleh makhluk halus, sehingga tak satupun orang dapat mencuri atau secara sengaja merusak taman kerajaan Purbakala itu.
**
Pugung Raharjo merupakan wilayah pemekaran di era runtuhnya Soeharto, Pugung Raharjo masuk dalam wilayah Lampung Timur. Sebagian besar penduduknya ber suku Jawa, Lampung dan Bali, sisanya adalah ber suku Sunda dan Padang. Sebagian besar penduduk di sana merupakan pendatang yang terus berkembang turun-temurun. Maimunah sendiri transmigran dari Pulau Dewata pasca Gunung Agung meletus pada tahun 1963 lalu.
“Waktu aku, bapakmu, embahmu pertama menginjak Lampung kondisinya masih hutan belantara. Kondisi itu yang membuat sebagian besar transmigran pulang kembali ke daerah asalnya. Hanya orang-orang kuat saja yang pada akhirnya terus beranak-pinak di Lampung kala itu”
“Aku, keluarga bapakmu dan pamanmu termasuk golongan yang terseleksi oleh alam,” kisah anak perempuan satu-satunya keturunan pasangan Halimah-Ma’dan.
Banyak orang mengatakan bahwa Lampung merupakan miniature Indonesia. Berbagai suku di negeri ini ada di sana, meskipun mereka mementap secara turun-temurun, lahir dan besar di sana, namun pendantang itu tidak fasih berbahasa Lampung. Masing-masing mereka membawa dan menggunakan bahasa sendiri. Maimunah sendiri sama sekali tidak faham dengan bahasa Lampung meskipun ia bergaul dengan mereka. Tapi Maimunah fasih berbahasa jawa selain bahasa ibu (Bali).
Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian tani. Namun bukan petani yang bebas menggarap ladangnya sendiri, melainkan petani upahan. Berdasarkan catatan statisktik tahun 2009, Lampung Timur merupakan kabupatern termiskin di Lampung.
Menurut catatan Kepolisian Daerah Lampung, Lampung Timur merupakan daerah rawan begal dan perampokan. Sebagian besar pelaku kejahatan yang ada di Lampung berasal dari Lampung Timur. Sementara catatan Badan Nasional Penganduan dan Penanganan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Lampung Timur termasuk daerah terbesar pengirim tenaga kerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga ke luar negeri. Hingga, catatan BNP2TKI juga mengatakan, bahwa Lampung Timur memiliki pasar yang sebagian besar penghuninya adalah eks TKI, pasar ini terletak di antara Simpang Sribawono.
**
Untuk menuju Pugung Raharjo dibutuhkan waktu tempuh selama 1,5 jam idealnya, kondisi jalan yang penuh dengan gelombang dan kubangan ikan akhirnya jarak tempuh itu bias melebihi dari semestinya. Sementara kalau diperhatikan kiri-kanan jalan terdapat perusahaan besar yang terus berproduksi hingga saat ini.
Demikian dengan siswa yang menempuh pendidikan di Pugung Raharjo atau secara luas Lampung Timur, banyak guru yang tidak berani member nilai merah di raport siswa mereka, apalagi sampai memberi stempel tidak naik, maka artinya guru dihadapkan dengan sebuah golok di atas meja.
Begitulah kondisi secara menyeluruh kampong halaman Maimunah. Terbelakang dan k eras meskipun tidak jauh dari Ibukota Provinsi Lampung. Meskipun demikian, Maimunah tetap memilih Pugung Raharjo sebagai tempat tinggalnya, sebagai tempat pendidikan bagi ke enam anaknya. Sekalipun Maimunah melangla buana, Maimunah tetap terus kembali ke sana, karena di sana menyimpan sejuta pengalaman susah dan senang selama ia menjalankan roda kehidupan.(BERSAMBUNG)
Thursday, October 28, 2010
Mbah Marijan dan Fir'aun Mati dalam Kondisi Sujud
Heboh media memberitakan meninggalnya Juru Kunci Merapi Jawa Tengah Mbah Marijan dalam kondisi sujud. Meninggalnya sang juru kunci hingga mengesampingkan peristiwa bencana yang terjadi di Mentawai juga banjir bandang yang terjadi di Kepulauan Wasior Papua yang nyata-nyata butuh perhatian serius dari kita.
Pujian dan sanjungan pun terlontar dari sejumlah kelompok masyarakat, tokoh juga media. Pasca ditetapkan sosok juru kunci ini meninggal, hampir semua status facebook memuja dan memuji Mbah Marijan juga stasiun TV memutar ulang rekaman secara khusus dan berturut-turut Mbah Marijan.
Penulis sepakat kalau sebenarnya Mbah Marijan itu sosok yang memegang teguh prinsip dan amanah secara turun-temurun. Bukan bermaksud ingin menyalahkan atau menghakimi orang yang telah meninggal, tapi penulis ingin mengajak pembaca khususnya teman-teman jurnalis, untuk membuka mata dari fenomena yang ada sesungguhnya.
Tidakkah kita mengetahui, bahwa warga sekitar Merapi hanya mau mengindahkan peringatan dari sang juru kunci ketimbang pemerintah yang telah bersusah payah menyelamatkan warta sekitar sana.
Warga Sekitar Merapi hanya mau mendengarkan peringatan Mbah Marijan hingga sampai gunung itu betul-betul meletus, mereka tak kunjung mengungsi karena belum ada perintah mengungsi dari Mbah Marijan. Sementara, sebelum Merapi itu betul-betul mengeluarkan letusan, pemerintah setempat telah membuat status awas sebagai tanda bahwa sekitar Merapi dinyatakan bahaya, seluruh penduduk diperintahkan untuk mengungsi.
Peringatan itu tak juga diindahkan. Tak juga didengarkan. Mbah Marijan belum memberi aba-aba mengungsi kepada pengikut setianya meskipun gejala alam saat itu menunjukkan bahwa wilayah gunung merapi dan sekitarnya berbahaya dan telah menurunkan hujan debu yang tampak tidak wajar dari biasanya. Dari letusan kecil yang dikeluarkan merapi Mbah Marijan meninggal beserta 30 warga termasuk satu diantaranya adalah seorang jurnalis.
Ini menunjukkan bahwa Marijan beserta keturunan sebelum dan sesudahnya bukan apa-apa buat merapi. Warisan juru kunci itu dinilai tidak perlu diturunkan lagi pada ahli warisnya, karena hanya menyesatkan banyak orang.
Jika masanya telah tiba, bukan hal yang sulit bagi merapi untuk memuntah semua isi perutnya. Dia tidak butuh puja dan puji dari penduduk sekitar dan dia juga tidak perlu takluk dengan perintah manusia siapapun. Sekalipun manusia itu adalah juru kunci secara turun-temurun. Hanya saja, kita sebagai manusia yang dibekali akal berfikir bagaimana caranya mengungsi, menyelamatkan diri dari amukan alam andai semua itu bisa dihindarkan.
Andaikan Mbah Marijan mengesampingkan egonya. Sadar bahwa dirinya bukan apa-apa buat merapi, bukan hal yang mustahil dirinya beserta pengikut setianya akan terselamatkan dari bencana yang sudah terprediksi oleh kecanggihan teknologi. Rabu (27-10) Mbah Marijan bersama korban merapi lainnya dimakamkan.
Selama masih ada kehidupan di muka bumi ini, maka akan ada terus reaksi alam. Ntah itu letusan gunung, banjir, longsong, gempa bumi dan tsunami. Reaksi alam itu bisa ditafsirkan oleh masing-masing individu. Apakah rekasi alam itu diterjemahkan teguran ataukah ujian, hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang mengetahuinya.
Meletusnya merapi, sujudnya Mbah Marijan pasti ada sebuah hikmah yang Allah tunjukkan pada kita..Apakah di akhir hayatnya kemudian Mbah Marijan mengakui kekuasaan Allah sama halnya seperti Fir'aun yang mati dalam kondisi sujud juga. Wallahualam..Andaikan analisa ini di nilai salah dan mengandung fitnah maka penulis minta maaf, tapi ketika fitnah itu muncul, sebenarnya ada sebuah investasi dari pihak yang bersangkutan. Semoga Allah mengampunkan dosa-dosa kita.
Pujian dan sanjungan pun terlontar dari sejumlah kelompok masyarakat, tokoh juga media. Pasca ditetapkan sosok juru kunci ini meninggal, hampir semua status facebook memuja dan memuji Mbah Marijan juga stasiun TV memutar ulang rekaman secara khusus dan berturut-turut Mbah Marijan.
Penulis sepakat kalau sebenarnya Mbah Marijan itu sosok yang memegang teguh prinsip dan amanah secara turun-temurun. Bukan bermaksud ingin menyalahkan atau menghakimi orang yang telah meninggal, tapi penulis ingin mengajak pembaca khususnya teman-teman jurnalis, untuk membuka mata dari fenomena yang ada sesungguhnya.
Tidakkah kita mengetahui, bahwa warga sekitar Merapi hanya mau mengindahkan peringatan dari sang juru kunci ketimbang pemerintah yang telah bersusah payah menyelamatkan warta sekitar sana.
Warga Sekitar Merapi hanya mau mendengarkan peringatan Mbah Marijan hingga sampai gunung itu betul-betul meletus, mereka tak kunjung mengungsi karena belum ada perintah mengungsi dari Mbah Marijan. Sementara, sebelum Merapi itu betul-betul mengeluarkan letusan, pemerintah setempat telah membuat status awas sebagai tanda bahwa sekitar Merapi dinyatakan bahaya, seluruh penduduk diperintahkan untuk mengungsi.
Peringatan itu tak juga diindahkan. Tak juga didengarkan. Mbah Marijan belum memberi aba-aba mengungsi kepada pengikut setianya meskipun gejala alam saat itu menunjukkan bahwa wilayah gunung merapi dan sekitarnya berbahaya dan telah menurunkan hujan debu yang tampak tidak wajar dari biasanya. Dari letusan kecil yang dikeluarkan merapi Mbah Marijan meninggal beserta 30 warga termasuk satu diantaranya adalah seorang jurnalis.
Ini menunjukkan bahwa Marijan beserta keturunan sebelum dan sesudahnya bukan apa-apa buat merapi. Warisan juru kunci itu dinilai tidak perlu diturunkan lagi pada ahli warisnya, karena hanya menyesatkan banyak orang.
Jika masanya telah tiba, bukan hal yang sulit bagi merapi untuk memuntah semua isi perutnya. Dia tidak butuh puja dan puji dari penduduk sekitar dan dia juga tidak perlu takluk dengan perintah manusia siapapun. Sekalipun manusia itu adalah juru kunci secara turun-temurun. Hanya saja, kita sebagai manusia yang dibekali akal berfikir bagaimana caranya mengungsi, menyelamatkan diri dari amukan alam andai semua itu bisa dihindarkan.
Andaikan Mbah Marijan mengesampingkan egonya. Sadar bahwa dirinya bukan apa-apa buat merapi, bukan hal yang mustahil dirinya beserta pengikut setianya akan terselamatkan dari bencana yang sudah terprediksi oleh kecanggihan teknologi. Rabu (27-10) Mbah Marijan bersama korban merapi lainnya dimakamkan.
Selama masih ada kehidupan di muka bumi ini, maka akan ada terus reaksi alam. Ntah itu letusan gunung, banjir, longsong, gempa bumi dan tsunami. Reaksi alam itu bisa ditafsirkan oleh masing-masing individu. Apakah rekasi alam itu diterjemahkan teguran ataukah ujian, hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang mengetahuinya.
Meletusnya merapi, sujudnya Mbah Marijan pasti ada sebuah hikmah yang Allah tunjukkan pada kita..Apakah di akhir hayatnya kemudian Mbah Marijan mengakui kekuasaan Allah sama halnya seperti Fir'aun yang mati dalam kondisi sujud juga. Wallahualam..Andaikan analisa ini di nilai salah dan mengandung fitnah maka penulis minta maaf, tapi ketika fitnah itu muncul, sebenarnya ada sebuah investasi dari pihak yang bersangkutan. Semoga Allah mengampunkan dosa-dosa kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)







